Share

Pesawat Ryanair Dipaksa Mendarat Mendadak dan Tiba-tiba Menukik, Penumpang: "Kami Mengira Pesawat Akan Jatuh"

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 26 Mei 2021 07:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 26 18 2415616 pesawat-ryanair-dipaksa-mendarat-mendadak-dan-tiba-tiba-menukik-penumpang-kami-mengira-pesawat-akan-jatuh-vxxPpxFZL3.jpg Pesawat Ryanair dipaksa mendarat mendadak (Foto: EPA)

BELARUSIA - Pesawat maskapai Ryanair rute Athena-Vilnius tiba-tiba berubah arah ke Belarusia, pada Minggu (23/05), agar aparat setempat bisa menangkap salah seorang penumpang, yaitu jurnalis Roman Protasevich.

Media pemerintah di Belarusia menyebut, Presiden Alexander Lukashenko—yang telah berkuasa sejak 1994—yang memerintahkan pesawat itu dialihkan ke Minsk.

Para penumpang pesawat maskapai Ryanair menceritakan apa yang ada di dalam benak mereka ketika pesawat yang mereka tumpangi tiba-tiba berubah arah tanpa ada penjelasan.

Pesawat dengan nomor penerbangan FR4978 tersebut berangkat dari Yunani dan semestinya mendarat di Vilnius, Lithuania.

Namun, saat sedang mengudara, pesawat penumpang itu tiba-tiba diapit pesawat jet tempur.

Pilot Ryanair kemudian mengumumkan perubahan arah secara darurat, tapi tidak menjelaskannya secara rinci.

Belakangan para penumpang mengetahui bahwa pesawat tersebut dipaksa mengubah arah dan mendarat di ibu kota Belarusia, Minsk, pada Minggu (23/05).

(Baca juga: Blinken: AS Siap Buka Kembali Konsulat di Yerusalem)

Di sana, aparat setempat langsung menangkap salah satu penumpang, seorang jurnalis bernama Roman Protasevich, 26.

  • Pesawat tiba-tiba menukik

"Kami semua yang berada di pesawat, panik, karena kami mengira pesawat ini bakal jatuh," kata warga Lithuania penumpang Ryanair, Raselle Grigoryeva, kepada ABC News.

"Pesawat tiba-tiba menukik, ketinggian berubah secara sangat drastis. Kasar sekali. Saya tak pernah merasakan hal seperti ini di dalam pesawat. Semua orang terkejut," lanjutnya.

Sebelum sempat mencapai perbatasan Lithuania, pesawat tersebut lantas berbelok ke timur ke arah Minsk.

 (Baca juga: AS Berjanji Bantu Bangun Gaza Usai Hancur Digempur Serangan Israel)

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

  • Jurnalis Protasevich 'takut' dan 'gemetar'

Penumpang lainnya, yang menyebut dirinya bernama Mantas, memaparkan kepada kantor berita Reuters jika pada saat pilot mengumumkan pesawat berbelok ke Minsk, Protasevich berdiri dan membuka kabin di atas kepala dan mengambil kopernya.

"[Dia] mengambil koper, dan berusaha untuk memisahkan barang bawaannya, seperti komputer yang ia titipkan kepada pacarnya," terangnya.

"Menurut saya, ia telah melakukan kesalahan. Saat itu ada banyak orang untuk menitipkan barang bawaannya, termasuk kepada saya, dan bukan kepada pacarnya, yang saya pikir juga ikut ditangkap,” jelasnya.

Mantas menambahkan dia menyaksikan petugas keamanan di Bandara Minsk menggunakan anjing pelacak untuk mencari koper milik Protasevich.

Sementara itu, satu penumpang lainnya yang enggan disebut namanya, mengatakan para petugas menggunakan kekuatan fisik saat menangkap jurnalis Protasevich, yang tampak "sangat ketakutan".

"Saya melihat langsung ke arah matanya, dia tampak sangat sedih,” ujar ungkap salah satu penumpang.

Penumpang bernama Edvinas Dimsa, 37, mengatakan kepada AFP bahwa sangat jelas sekali saat itu Protasevich "sangat ketakutan".

"Kalau saja ada jendela yang terbuka, ia mungkin akan melompat keluar,” ujarnya.

Penumpang lainnya mengatakan kepada media di Lithuania, walau Protasevich relatif tenang, dia tampak gemetar ketika meninggalkan pesawat sembari dikawal petugas keamanan "sepanjang waktu"

"Kami bertanya kepadanya, apa yang terjadi... dia menjawab: 'hukuman mati sudah menunggu saya di sini,” terangnya.

Saksi lainnya menggambarkan bagaimana Protasevich segera menunjukkan dirinya kepada petugas, yang kemudian tampak menyita paspornya.

  • Penumpang berada di Minsk berjam-jam tanpa informasi

Penumpang yang tersisa ditahan di bandara Minsk selama berjam-jam karena koper dan dokumen mereka diperiksa.

"Kami berada di sana selama delapan jam. Kami tak mendapat informasi apa pun mengenai apa yang telah terjadi, kami hanya mengetahuinya melalui internet," kata seorang penumpang kepada Reuters.

Pesawat Ryanair dengan nomor penerbangan FR4978 kemudian terbang lagi dan mendarat di Vilnius sekitar pukul 21:30 waktu setempat.

Protasevich adalah mantan editor Nexta, sebuah media yang beroperasi dengan saluran Telegram.

Dia meninggalkan Belarusia pada 2019 dan hidup dalam pengasingan di Lithuania. Dari sana, dia meliput pemilu presiden Belarusia pada 2020. Setelah itu dia dituduh melakukan terorisme dan memprovokasi kerusuhan.

  • Bagaimana respons keluarga Roman Protasevich?

Ayah Roman Protasevich, Dimitri Protasevich, mengaku kepada BBC bahwa dia "benar-benar takut" apa yang akan dilakukan aparat Belarusia terhadap putranya.

"Kami berharap dia akan mampu bertahan. Memikirkannya saja kami takut, tapi kemungkinan dia akan dipukuli dan disiksa. Kami benar-benar takut itu," paparnya dalam panggilan video.

"Kami sangat syok dan amat kesal. Hal semacam ini seharusnya tidak terjadi pada abad ke-21 di tengah Eropa,” ungkapnya.

"Kami berharap seluruh komunitas internasional, termasuk Uni Eropa, akan memberi tekanan baru terhadap aparat. Kami berharap tekanan akan berhasil dan aparat akan menyadari mereka berbuat kesalahan yang amat besar,” lanjutnya.

Protasevich ditahan bersama kekasihnya, Sofia Sapega.

Ibu Sofia mengatakan kepada BBC bahwa perempuan berusia 23 tahun itu dibawa ke sebuah penjara di Minsk. Menurutnya, kata terakhir yang dikirimkan Sofia melalui aplikasi WhatsApp adalah 'Ibu'. Tuduhan terhadap Sofia belum jelas.

Sementara itu, video yang menampilkan keadaan Protasevich beredar pada Senin (24/05).

Dalam video itu, Protasevich mengatakan dirinya dalam kondisi sehat dan mengakui kejahatan yang dituduhkan aparat Belarusia. Namun, para aktivis, termasuk pemimpin kubu oposisi, menuding aparat telah menekan Protasevich agar mau mengaku.

Seusai kejadian penangkapan Protasevich, Uni Eropa memutuskan untuk melarang pesawat-pesawat maskapai Belarusia mengudara di wilayah Eropa.

Ke-27 negara anggota juga menginstruksikan seluruh maskapai asal Uni Eropa tidak mengudara di wilayah Belarusia. Rangkaian sanksi ekonomi terhadap Belarusia akan menyusul.

Belarusia adalah satu-satunya negara di Eropa yang masih mengeksekusi mati tahanan.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini