Selanjutnya, pada 1920, Bung Karno menjadi mahasiswa di Technische Hoge School (Institut Teknologi Bandung) di Bandung dan mengambil jurusan teknik sipil. Saat itu, Sang Putra Fajar ini sudah melakukan eksplorasi, menjelajah dan bertemu dengan banyak tokoh politik, masyarakat, dan para ulama berpengaruh di Bandung.
Apalagi, saat kuliah di Bandung, Soekarno tinggal di kediaman Haji Sanusi yang merupakan anggota Sarekat Islam dan sahabat karib HOS Cokroaminoto. Melalui Haji Sanusi, Bung Karno Muda berinteraksi dengan Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo dan Dr Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
“Saat jadi mahasiswa itulah, Bung Karno banyak membaca buku, teks, manuskrip, Alquran, hadis, dan lain-lain. Ini bentuk dari ayat Qauliyah. Selain Qauliyah, dia juga mengaktualisasikan ayat Kauniyah, berkeliling bertemu dengan banyak tokoh, bertemu masyarakat, ulama. Jadi pancasila tidak mungkin bisa dihidupkan kembali jika tidak melihat rute ini dan metode ini,” katanya.
Al Zastrouw juga merinci, ada 3 Fase sampai pada perenungan itu. Pertama, eksplorasi terhadap ayat-ayat Qauliyah dan Kauniyah. Kedua, internalisasi terhadap sepirit nilai terhadap apa yang ada di ayat Qauliyah dan Kauniyah. Ketiga, saat melakukan eksplorasi itu tidak langsung dihakimi, tapi dimuntahkan lagi untuk direkontruksi.
“Kalau ada orang cerita, pancasila datang tidak dari langit, iya. Prosesnya apa secara metodologis, ini adalah mendialogkan antara yang Qauliyah dan Kauniyah, mendialogkan antara yang modern dengan yang tradisional, antara yang rasional dan spiritual. Inilah proses menuju bangunan pancasila itu,” jelasnya.
Makanya, lanjut dia, ketika ada orang modern tiba-tiba datang dan ingin mengganti sistem ketatanegaraan Indonesia yang murni modern, maka tidak akan konektif dengan pancasila. Demikian juga dengan kaum agamawan yang datang dan ingin menerapkan sistem syariah, khilafah, dan sebagainya. Karena tidak mendialektikan seperti yang dilakukan Bung Karno, pasti akan mengalami problem.
Dialektika-dialektika itu merupakan resources atau sumber daya yang sudah dikembangkan, dieksplorasi, dan ditanamkan oleh Bung karno sekian tahun dan menemukan sintesanya ketika Bung Karno diasingkan di Ende, jauh dari teman-teman seperjuangan dan saat kesepian di pengasingan. Al Zastrouw mengistilahkan itu sebagai kawah Candradimuka dalam rangka mengkontruksi dan mengkonseptualisasikan pancasila pada saat-saat sepi, menyendiri, dan saat dia berdialog dengan hatinya.
“Saya kira, di Ende ini adalah “Goa Hiranya” Bung Karno. Kalau Nabi Muhammad melakukan pengembaraan jadi pedagang, pengembaraan, itu adalah proses dialektikanya beliau dalam membaca ayat Kauniyah, belum dapat ayat Qauliyah saat itu. Sementara Bung Karno sudah mendapatkan dua-duanya. Bung Karno mendapatkan keduanya saat di Ende ini. Sementara, Nabi Muhammad SAW baru mendapatkan ayat Qauliyahnya atau wahyu pertamanya setelah menjalani kontemplasi di Gua Hira. Ende inilah Gua Hira-nya pancasila, kalau boleh saya analogikan,” ucapnya.
Sementara, Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila (PSPP) Syaiful Arif menyebut, Ende adalah kota rahimnya Pancasila. Ende menjadi rahim Pancasila, bukan karena 5 sila itu ditemukan di Ende, tapi di Ende lah Bung Karno Muda mampu meramu 5 sila yang telah beliau susun satu per satu sejak 1918.
Kenapa angka 1918 disebut, lanjut dia, karena di pidato beliaulah angka itu yang disebut, yakni pada pidato 1 Juni. “Soekarno kan di akhir paragraf pidato menyatakan, meskipun kita persiapan kemerdekaan hanya dalam hitungan bulan, yakni Mei sampai Agustus, tetapi sebenarnya, dasar dari negara itu sudah saya siapkan jauh-jauh hari dari 1918,” kata Syaiful Arif menirukan ucapan Bung Karno.
Ini juga dilakukan oleh para calon pemimpin bangsa lain, seperti Adolf Hitler dari Jerman, Vladimir Lenin dari Rusia, Sun Yat Sen dari China, dan sejumlah tokoh besar lainnya. Para pendiri bangsa itu sudah menyusun, membangun dasar-dasar negaranya jauh-jauh hari sebelum pendirian negara itu dilakukan dalam hitungan hari atau bulan.
“Makanya, ketika ada sejarawan mengatakan bahwa seluruh rangkaian sidang BPUPK, terutama sidang BPUPK yang pertama yang memiliki agenda utama perumusan dasar negara, itu merupakan by desain Soekarno, itu masuk akal juga. Pernyataan ini konon katanya ada sumber datanya,” kata mantan Tenaga Ahli Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tersebut.
Kenyataanya, Soekarno menempatkan diri sebagai pembicara terakhir pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) pada 1 Juni. Pada Pemilihan ketua BPUPK itu, juga atas usulan Bung Karno. Jadi, beliau tidak secara khusus mengajukan diri sebagai ketua sidang, karena beliau ingin bicara secara khusus tentang wahyu yang ditemukan di Rumah Pengasingan Ende.