"Meskipun tidak ada pejabat terpilih kota di Tulsa hari ini yang hidup pada tahun 1921, kami adalah pelayan dari pemerintah yang sama dan permintaan maaf atas kegagalan itu adalah milik kami untuk disampaikan," tulisnya di Facebook.
"Para korban - pria, wanita, anak kecil - layak mendapatkan yang lebih baik dari kota mereka, dan saya menyesal mereka tidak menerimanya,” ujarnya.
Sementara itu, saat bersaksi di depan Kongres bulan lalu, seorang korban kerusuhan yang selamat - Viola Fletcher, 107, mengungkapkan pendapatnya.
"Kami kehilangan segalanya hari itu ... Greenwood mewakili semua yang terbaik dari apa yang mungkin bagi orang kulit hitam di Amerika,” terangnya.
Seperti diketahui, pada 31 Mei 1921, sekelompok orang kulit putih Amerika meruntuhkan lingkungan Greenwood yang makmur dan didominasi orang kulit hitam di Tulsa.
Komunitas - yang dikenal dengan julukan "Black Wall Street" - adalah lingkungan Afrika-Amerika terkaya di negara itu sampai banyak rumah dan bisnisnya dibakar dalam kerusuhan itu.
Selain nyawa yang hilang, banyak orang kulit hitam AS yang terluka atau kehilangan tempat tinggal. Pada tahun-tahun setelah insiden itu, banyak catatan resmi hilang atau hancur, dan sekolah-sekolah tidak mengajarkan tentang pembantaian itu.
Kurang dari dua tahun setelah pembantaian Tulsa, massa kulit putih menghancurkan kota hitam Rosewood di pedesaan Florida.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.