WATU GILANG merupakan batu hitam berbentuk persegi, berukuran 2 m di setiap sisinya, tingginya 30 cm dan terletak di sebuah ruangan yang sengaja dibuat untuk untuk melindungi batu ini.
Batu ini dipercaya dulunya merupakan singgasana Panembahan Senopati. Dulu tempat berukuran 3×3 m ini dipercaya terletak di tengah pelataran yang dulunya berupa keraton.
Di sisi sebelah timur batu terdapat cekungan. Cekungan ini konon muncul akibat dibenturkannya kepala Ki Ageng Mangir, musuh sekaligus menantu Panembahan Senopati, hingga tewas.
Ki Ageng Mangir sendiri merupakan musuh dari Panembahan Senopati. Untuk menaklukkannya, Panembahan Senopati melakukan taktik apus krama atas usulan dari Ki Juru Mertani.
Baca Juga: Cerita Ratu Kidul "Kesemsem" Panembahan Senopati
Taktik Apus Krama ini adalah taktik dengan cara mengirimkan Roro Pembayun –puteri Panembahan Senopati-menjadi penari tayub untuk memikat Ki Ageng Mangir.
Setelah Ki Ageng Mangir tertarik dan menikahi Puteri Pembayun, maka ia harus menghadap ke mertuanya yang yaitu Panembahan Senopati.
Sesampai di Keraton Kotagede, pengawal melarang Ki Mangir masuk karena masih membawa senjata (tombak ki baru klinthing).
Atas dasar etika kerajaan yang melarang membawa senjata bila menghadap raja, maka Ki Mangir meletakkan senjatanya dan menghadap mertuanya untuk meminta restu.
Saat Ki Ageng Mangir sungkem inilah ia kemudian dibunuh oleh Panembahan Senopati dengan membenturkan kepalanya ke singgasana Watu Gilang hingga ia tewas seketika.