Share

Serangan Tabrakan Satu Keluarga Muslim, Walikota London Umumkan Masa Berkabung 3 Hari

Susi Susanti, Koran SI · Selasa 08 Juni 2021 12:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 08 18 2421846 penembakan-satu-keluarga-muslim-walikota-london-umumkan-masa-berkabung-3-hari-hmkBMxBtsB.jpg Warga ikut berdoa di tempat kejadian perkara saat satu keluarga muslim ditabrak (Foto: Reuters)

KANADA - Walikota London, Ontario, Kanada, Ed Holder memerintahkan bendera di luar balai kota diturunkan selama tiga hari sebagai masa berkabungterkait insiden satu keluarga Muslim tewas dalam serangan kendaraan yang "direncanakan" pada Minggu (6/6).

Polisi Kanada mengatakan serangan terjadi di kota London, provinsi Ontario. Para korban adalah dua wanita - berusia 74 dan 44 tahun - seorang pria berusia 46 tahun dan seorang gadis berusia 15 tahun. Mereka belum diberi nama, sesuai dengan keinginan keluarga. Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, satu-satunya keluarga yang selamat, dirawat di rumah sakit dengan luka serius tetapi tidak mengancam jiwa.

"Biar saya perjelas: Ini adalah tindakan pembunuhan massal, dilakukan terhadap Muslim - terhadap warga London - dan berakar pada kebencian yang tak terkatakan," kata Holder dalam sebuah pernyataan.

“Tindakan kebencian yang tak terkatakan ini, tindakan Islamafobia ini, harus diikuti oleh tindakan kasih sayang, tindakan kebaikan, tindakan empati, tindakan solidaritas – keadilan – dan, di atas segalanya, cinta,” terangnya.

Perdana Menteri Ontario Doug Ford juga mentweet ucapan belasungkawanya pada hari Senin. “Kebencian dan Islamofobia TIDAK punya tempat di Ontario. Keadilan harus ditegakkan atas tindakan kebencian mengerikan yang terjadi di London, Ontario kemarin," tulisnya.

(Baca juga: Keluarga Muslim Tewas dalam Serangan yang 'Direncanakan', Diduga Kejahatan Rasial)

Menteri Pertahanan Nasional Kanada, Harjit Sajjan, mengatakan sangat sedih mengetahui empat Muslim Kanada yang tewas di London, Ontario dalam serangan Islamofobia yang keji.

“Tiga generasi keluarga hilang dalam sekejap. Kebencian yang meluas ini terlalu umum di negara kita. Kita harus bersatu untuk mengakhiri kebencian dalam segala bentuknya,” ujarnya.

Jagmeet Singh, pemimpin oposisi Partai Demokrat Baru (NDP), juga mengutuk serangan itu. “Mereka dibunuh karena keyakinan mereka,” tulis Singh di Twitter.

“Lebih dari sebelumnya kita harus berdiri bersama keluarga, teman & tetangga Muslim kita melawan kebencian keji seperti itu,” tegasnya.

(Baca juga: Wanita 80 Tahun Ini Tewas Usai Dioperasi Mantan Satpam yang Menyamar Menjadi Dokter)

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Dewan Nasional Muslim Kanada, sebuah kelompok advokasi nasional, mengatakan "sangat ngeri" dengan serangan mematikan itu.

“Ini adalah serangan teroris di tanah Kanada, dan harus diperlakukan seperti itu. Kami menyerukan kepada pemerintah untuk mengadili penyerang sepenuhnya sesuai hukum, termasuk mempertimbangkan tuduhan teroris," kata CEO kelompok itu, Mustafa Farooq, dalam sebuah pernyataan, Senin (7/6).

“Kehilangan keluarga ini, kehilangan seorang anak di komunitas kami karena Islamofobia – ini adalah kesedihan yang akan mendalam untuk waktu yang lama. Tapi biarkan kesedihan itu menjadi dasar di mana kita berdiri untuk keadilan, dan berdiri untuk perubahan,” lanjutnya.

Menurut statistik Kanada pada Maret lalu, kejahatan rasial yang dilaporkan polisi yang menargetkan Muslim “naik sedikit” menjadi 181 insiden pada 2019 – tahun terakhir di mana data tersedia. Itu naik dari 166 insiden tahun sebelumnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, wanita Muslim di provinsi Alberta telah menjadi sasaran dalam beberapa insiden kekerasan verbal dan fisik.

Pada September tahun lalu, Mohamed-Aslim Zafis, 58, ditikam secara fatal di luar sebuah masjid di ujung barat Toronto tempat dia bekerja sebagai penjaga. Itu mendorong seruan bagi pihak berwenang untuk menanggapi ancaman kekerasan sayap kanan lebih serius dan untuk menyelidiki serangan itu sebagai motivasi kebencian.

Komunitas Muslim di Kanada juga masih belum pulih dari penembakan massal Januari 2017 di sebuah masjid di Kota Quebec yang menewaskan enam pria Muslim dan melukai beberapa lainnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini