Raden Panji Margono memimpin pertempuran jarak dekat melawan pasukan Belanda di daerah Narukan dan Karangpace (barat Lasem) hingga ke utara di tepi laut.
"Di Narukan, perut sebelah kiri Raden Panji Margono terkena sabetan pedang hingga sebagian ususnya keluar. Ia digendong oleh pengawal pribadinya, yaitu Ki Galiya, dengan perlindungan Ki Mursada. Setelah mencapai tempat aman di utara Gombong, luka Raden Panji Margono dirawat, tetapi ia meninggal karena kehabisan banyak darah,"ungkapnya.
Sebelum gugur, ia meninggalan wasiat agar jenasahnya dimakamkan di bawah pohon trenggulun di desa Sambong tanpa ditandai gundukan tanah serta batu nisan.
Istri dan anak-anaknya diungsikan ke Narukan. Seluruh kitab suci dan Pustaka Badrasanti miliknya diserahkan kepada Ki Badraguna yang menjadi Lurak Criwik. Juga tembang sinom gubahannya sepulang dari perang Juwana agar dilestarikan sebagai kidung para dalang dan pesinden Lasem.
Berita kematian Raden Panji Margono membuat Oei Ing Kiat menjadi gelap mata. Ia maju ke depan medan peperangan dengan menggunakan pedang hingga akhirnya tertembak di dada oleh serdadu dari Ambon.
Pada saat mundur, ia ambruk dan dikelilingi orang-orang. Ia meninggalkan pesan , jenasahnya dimakamkan di lereng puncak gunung Bugel menghadap ke barat dengan ditandai dayung perahu serta pohon beringin.
"Hanya keluarganya yang diperbolehkan untuk mengetahui makamnya. Jenasahnya dibawa ke Warugunung di rumah istri mudanya yang beretnis Jawa untuk dibersihkan dan dimakamkan," ucap Koh Lam.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.