Singa Dikembalikan ke Pemiliknya Usai Campur Tangan PM Kamboja

Susi Susanti, Koran SI · Selasa 06 Juli 2021 07:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 06 18 2436075 singa-dikembalikan-ke-pemiliknya-usai-campur-tangan-pm-kamboja-OT9hPut2uq.jpg Singa dikembalikan ke pemiliknya (Foto: Reuters)

KAMBOJA - Seekor singa peliharaan yang disita oleh otoritas Kamboja bulan lalu telah dikembalikan ke pemiliknya setelah intervensi mendadak Perdana Menteri Kamboja Hun Sen.

Para pejabat mengatakan singa jantan berusia 18 bulan itu diselundupkan secara ilegal ke negara itu oleh seorang warga negara China.

Mereka meluncurkan penyelidikan pada April lalu setelah melihat video TikTok tentang singa di sebuah vila di ibu kota, Phnom Penh.

Singa seberat 70 kg ditangkap pada 27 Juni dan dipindahkan ke pusat penyelamatan.

Sejak itu pemiliknya, seorang pria asal China bernama Zhai Xinjiang telah mengajukan permohonan untuk kembalinya singa melalui media sosial (medsos) dan wawancara dengan media lokal.

Pada Minggu (4/7) malam, Perdana Menteri Hun Sen menanggapi permohonan pemilik di sebuah posting Facebook.

(Baca juga: Ada OTG dari Indonesia, Perbatasan China-Myanmar Kembali 'Lockdown')

Dia mengatakan dia telah mengangkat masalah ini dengan Menteri Pertanian Veng Sakhon dan setuju untuk mengembalikan singa kepada pemiliknya jika hewan itu disimpan di "kandang yang tepat".

Dia juga memerintahkan pihak berwenang untuk mengganti denda yang dibayarkan oleh pemiliknya sebesar USD30.000 (Rp434 juta).

Pemilik singa langsung berterima kasih kepada Perdana Menteri dalam komentar di medsos dan menyatakan terima kasih kepada orang-orang Kamboja atas bantuan dan dukungan mereka.

Menteri Pertanian mengatakan kepada outlet berita VOA Khmer keputusan "bersimpati" itu datang dari Perdana Menteri. Dia mengatakan pihak berwenang akan memastikan singa itu disimpan dengan aman.

(Baca juga: Malaysia Lockdown Ketat, Warga Kibarkan Bendera Putih Minta Tolong)

Kementerian Lingkungan Kamboja mengatakan memelihara singa sebagai hewan peliharaan di negara itu adalah ilegal. Kementerian mengutip Pasal 49 undang-undang kehutanan, yang melarang kegiatan apa pun yang melibatkan spesies satwa liar yang terancam punah.

Wildlife Alliance, sebuah kelompok penyelamat hewan yang membantu menyita singa, mengatakan kondisi di rumah pemiliknya "tidak pantas untuk hewan liar".

"Selain itu, gigi taring singa telah dicabut, bersama dengan cakarnya, yang secara drastis mengurangi kualitas hidup singa," kata organisasi itu dalam sebuah pernyataan bulan lalu.

BBC menghubungi Aliansi Margasatwa untuk memberikan komentar tetapi tidak segera menerima jawaban.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar pro-pemerintah Khmer Times, pemiliknya membantah tuduhan bahwa dia telah menganiaya singa itu.

Dia mengatakan dia menghabiskan USD5.000 (Rp72 juta) per bulan untuk menyewa vila khusus hanya untuk hewan peliharaannya.

Dia mengatakan dia tidak sadar bahwa memelihara singa peliharaan di Kamboja adalah ilegal dan meminta maaf karena membuat tetangganya khawatir.

"Saya merasa sangat bahagia, sangat tersentuh... Saya tidak menyangka akan mendapatkannya kembali," kata pemilik vila kepada wartawan di vilanya di lingkungan kelas atas ibu kota.

Tetapi beberapa kritikus sangat tidak setuju dengan keputusan untuk mengembalikan hewan itu.

Dalam sebuah tweet, duta besar Inggris untuk Kamboja, Tina Redshaw, mengatakan pengembalian itu merusak undang-undang untuk mencegah kepemilikan dan perdagangan satwa liar yang terancam punah.

Petugas advokasi senior di Jaringan Pemuda Kamboja, San Mala, mengatakan kepada VOA Khmer jika keputusan itu seharusnya didasarkan pada hukum, "bukan emosi".

Pihak berwenang Kamboja belum menjelaskan mengapa keputusan awal untuk menyita singa itu dibatalkan.

Salah satu pemimpin terlama di dunia, Perdana Menteri Hun Sen memiliki hubungan dekat dengan China, yang telah menggelontorkan miliaran dolar dalam bantuan pembangunan dan pinjaman ke negara itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini