JAKARTA - Presiden kedua Indonesia, Soeharto dan istri mempunyai cita-cita untuk membangun suatu pusat kebudayaan peninggalan nenek moyang kita yang akhirnya nanti bisa berfungsi sebagai tempat rekreasi, tempat pendidikan, dan juga tempat untuk mengembangkan kebudayaan.
Soeharto tahu bahwa ada kelompok tertentu yang ingin menjadikan proyek yang dicita-citakan itu sebagai satu isu politik. Mereka mencari kesempatan untuk bisa mengganggu kestabilan nasional.
“Kalau mereka tidak mengerti akan kalimat ‘tidak akan saya biarkan’, terus terang saja, akan saya tindak,” kata Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.
Baca juga: Ketika Presiden Soeharto Bicara soal Peran Wanita dan Kawin Lagi
Baca juga: Cerita Soeharto Bujuk Jenderal Soedirman Kembali ke Yogyakarta
Akhirnya proyek yang dicita-citakan itu terlaksana, dibangun mulai tahun 1975. Kritik terhadap ide kami itu muncul lagi. Namun, sebenarnya pihak yang mengkritik itu belum tahu tujuan Soeharto. Mereka khawatir bahwa pembangunan itu akan membuat pemborosan saja dan tidak ada artinya. Padahal tujuan kami bukan seperti yang dikhawatirkannya itu.
Kenyataan, sekian tahun kemudian, menunjukkan bahwa setelah Taman Mini Indonesia Indah itu (TMII) jadi, pengkritik-pengkritik itu akhirnya mengakui manfaatnya.
Tidak bisa tidak! Rekreasi makin hari makin terasa sebagai kebutuhan yang benar-benar diperlukan. Daya tahan tubuh, mental dan pikiran ada batasnya. Karena itu, diperlukan pemulihan kekuatan dan kesegaran baru, hingga timbul kekuatan baru untuk bekerja keras pada waktu selanjutnya.
Jika anggota masyarakat memiliki kekuatan baru, maka sebagai bangsa, kita pun mampu melaksanakan tugas yang lebih besar dan berat. Karena itu, rekreasi besar manfaat dan artinya bagi bangsa yang sedang membangun.
Dari tahun ke tahun proyek yang berharga dan diperlukan orang banyak itu kita tambah dan kita perbaiki terus. Penambahan sarana baru di Taman Mini itu, di tahun 1986, yakni berupa Istana Anak-Anak Indonesia, Taman Bunga, Keong Emas, Museum Asmat, Pusat Informasi Budaya dan Wisata serta Taman Among Putera mendapat sambutan meriah dari masyarakat. Turis-turis dari luar negeri pun bertambah banyak saja yang menyaksikan proyek itu.