Namun hasil dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan itu hingga kini belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan, yaitu sebuah ibukota kerajaan dari masa Hindu-Buda, satu-satunya situs perkotaan di era kerajaan-kerajaan kuno dari abad V-XV Masehi yang ada di Nusantara ini.
Memang upaya untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang sebuah kota tidaklah mudah. Apalagi peninggalan-peninggalannya yang sampai kepada kita sangat fragmentaris. Ada beberapa faktor penyebab kerusakan yang dialami kerajaan Majapahit. Utamanya adalah faktor internal, yaitu adanya suksesi dan perebutan kekuasaan.
Di dalam perjalanannya kerajaan Majapahit mengalami berbagai peristiwa pemberontakan di antara keluarga raja untuk memperebutkan kekuasaan, seperti pemberontakan Ranggalawe, Lembusora, Nambi, Kuti, Tanca, penaklukan Keta, dan Sadeng (Baskoro 2004).
Peristiwa besar yang hampir meruntuhkan kerajaan Majapahit dikenal sebagai perang Paregreg, antara Wikramawardhana dari wilayah bagian barat (Majapahit) dengan Bhrĕ Wirabhumi yang memerintah di bagian timur (Blambangan). Pemberontakan terus-menerus terjadi, penguasa silih berganti. Kemudian muncullah Girindrawardhana yang mengambil alih pemerintahan Majapahit.
Girindrawardhana inilah yang berusaha mempersatukan kembali wilayah kerajaan Majapahit yang terpecah-pecah akibat pertentangan keluarga (Baskoro 2004). Meskipun ia telah menyatukan kembali wilayah Majapahit yang terpecah-pecah, tetapi kekuasaan kerajaan Majapahit tidak dapat dipertahankan. Akibatnya pengawasan terhadap daerah-daerah bawahannya semakin lemah, dan memberi peluang bagi daerah-daerah bawahan tersebut untuk menyusun kekuatan dan melepaskan diri dari Majapahit.
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.