Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jaringan Akun Palsu Penyebar Propaganda China Terungkap, Ini Cara Kerjanya

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Minggu, 08 Agustus 2021 |13:53 WIB
Jaringan Akun Palsu Penyebar Propaganda China Terungkap, Ini Cara Kerjanya
Ilustrasi. (Foto: Ist.)
A
A
A

BEIJING - Jaringan yang terdiri dari 350 akun palsu di dunia maya menyuarakan narasi pro-China dan berusaha mendiskreditkan mereka yang dianggap sebagai penentang pemerintah China, menurut sebuah studi baru.

Tujuannya adalah untuk mendelegitimasi negara-negara Barat, juga meningkatkan pengaruh dan citra China di luar negeri, menurut penelitian yang dilakukan Center for Information Resilience (CIR).

BACA JUGA: Tidak Ada Kepanikan di China Dalam Hadapi Varian Baru Covid-19 

Hasil penelitian tersebut, yang dibagikan kepada BBC, menemukan bahwa jaringan akun palsu mengunggah karikatur norak yang mengilustrasikan sejumlah tokoh, seperti taipan China yang diasingkan, Guo Wengui, seorang kritikus vokal China.

Tokoh kontroversial lainnya yang ditampilkan dalam karikatur tersebut termasuk ilmuwan yang melaporkan tentang virus corona, Li-Meng Yang, dan Steve Bannon, mantan ahli strategi politik Donald Trump.

Masing-masing individu ini dituduh menyebarkan disinformasi, termasuk informasi palsu tentang Covid-19.

Beberapa akun palsu tersebut - yang bertebaran di semua platform media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram dan YouTube - menggunakan foto profil yang dihasilkan dari kecerdasan buatan deepfake.

BACA JUGA: Surat Kabar China Tuding AS Penyebar Terbesar Covid-19, Bertanggung Jawab Atas Pandemi Global

Sementara akun yang lain tampaknya merupakan akun yang dibajak dari pengguna media sosial di negara lain. Sebab mereka sebelumnya mengunggah dalam bahasa asing.

Tidak ada bukti nyata bahwa jaringan tersebut terkait dengan pemerintah China, tetapi menurut CIR, sebuah kelompok nirlaba yang bertujuan melawan disinformasi, jaringan tersebut menyerupai jaringan pro-China yang sebelumnya dihapus oleh Twitter dan Facebook. 

Jaringan ini memperkuat narasi pro-China yang serupa dengan yang dipromosikan oleh perwakilan pemerintah dan media pemerintah China.

Sebagian besar konten yang dibagikan oleh jaringan berfokus pada AS, dan khususnya pada isu-isu yang memecah belah seperti undang-undang senjata dan politik ras.

Salah satu narasi yang diprovokasi oleh jaringan tersebut melukiskan AS memiliki catatan hak asasi manusia yang buruk.

Misalnya, unggahan yang menyebut pembunuhan George Floyd dan diskriminasi terhadap orang Asia.

Sejumlah akun palsu berulang-ulang membantah pelanggaran HAM di Xinjiang, yang disebut para pakar menjadi lokasi pemerintah China menahan sedikitnya satu juta penduduk Muslim di luar kehendak mereka.

Akun-akun palsu itu menyebut bahwa tudingan itu adalah "kebohongan yang dibuat oleh Amerika Serikat dan negara-negara barat".

"Tujuan dari jaringan ini tampaknya untuk mendelegitimasi negara-negara barat dengan mengamplifikasi narasi pro-China," kata Benjamin Strick, penulis dari laporan CIR.

Bagaimana jaringan ini terkuak? 

CIR memetakan tagar yang disukai oleh jaringan telah diidentifikasi sebelumnya, menggali lebih banyak akun yang menunjukkan tanda-tanda menjadi bagian dari operasi memberikan pengaruh di dunia maya.

Tanda-tandanya termasuk aktivitas tingkat tinggi yang mendorong narasi propaganda dan penggunaan tagar yang sama berulang kali.

Selain itu, akun yang baru saja dibuat, akun dengan nama pengguna yang tampaknya dibuat secara acak, dan akun dengan pengikut yang sangat sedikit juga menjadi tanda bahwa mereka terlibat dalam operasi itu.

Sejumlah akun dibuat untuk mengunggah konten orisinal, sementara yang lain hanya membagikan kembali, menyukai, dan memberi komentar pada konten orisinal tersebut, untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Aktivitas semacam ini kerap disebut sebagai "astroturfing" karena dirancang untuk menciptakan penampakan kampanye akar rumput.

Orang-orang palsu

Banyak dari akun palsu ini menggunakan foto yang dihasilkan oleh deepfake - fenomena baru yang memungkinkan komputer menciptakan citra yang tampak realistis dari seseorang yang sebenarnya tidak ada. 

Tak seperti foto yang dicuri dari foto profil seseorang yang nyata, foto yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan, yang dibuat oleh jenis kerangka pembelajaran mesin yang disebut StyleGAN, tidak dapat dilacak menggunakan pencarian gambar.

Penggunaan foto palsu dalam kampanye disinformasi menjadi lebih umum karena pengguna dan platform menjadi lebih waspada terhadap akun yang mencurigakan.

Foto yang sintetis selalu menempatkan mata di lokasi yang sama, jadi menyusun semuanya dapat membantu mengidentifikasi koleksi foto akun palsu.

Biasanya, koleksi acak dari foto profil akan menampilkan lebih banyak variasi dalam potongan foto dan penyelarasan mata.

Tanda-tanda lain termasuk tepi rambut yang tampak kabur, gigi di sudut tampak aneh, dan objek kabur di sekitar wajah.

Banyak akun Facebook yang diyakini sebagai bagian dari jaringan tersebut tampaknya memiliki nama Turki.

Akun-akun ini mungkin pernah menjadi milik orang sungguhan tetapi kemudian dibajak atau dijual dan diberi gambar profil baru.

Akun yang dibajak juga menyebarkan narasi pro-China di YouTube.

Akun yang sebelumnya mengunggah dalam bahasa Inggris atau Jerman dan kemudian tidak aktif selama bertahun-tahun, tiba-tiba mulai mengunggah konten berbahasa Mandarin dari lembaga penyiaran resmi negara China.

Laporan ini menemukan unggahan Twitter dengan teks dan gambar yang sama persis, yang diunggah di hari yang sama.

CIR membagikan hasil penelitiannya dengan media sosial yang platformnya dipakai oleh akun palsu tersebut.

Facebook telah menghapus akun palsu di platformnya yang disorot dalam penelitian ini.

Seorang juru bicara Facebook mengatakan: "Pada September 2019, kami menghapus jaringan aktivitas spam yang mengunggah tentang gaya hidup dan politik, terutama dalam bahasa China".

"Jaringan ini hampir tidak memiliki keterlibatan di platform kami, dan kami terus bekerja dengan para peneliti dan rekan industri kami untuk mendeteksi dan memblokir upaya mereka untuk kembali, seperti akun yang disebutkan dalam laporan ini."

YouTube juga menghapus akun palsu di platform mereka karena melanggar pedoman komunitas YouTube.

Twitter mengatakan pihaknya juga telah menghapus hampir semua akun palsu yang diidentifikasi oleh CIR, serta sejumlah akun lainnya yang terlibat dalam perilaku serupa.

Twitter menyebut bahwa penyelidikan yang dilakukan platformnya masih berlangsung.

"Ketika kami mengidentifikasi kampanye operasi informasi yang dapat kami atribusikan ke aktivitas terkait negara - baik yang dipimpin domestik atau asing - kami mengungkapkannya ke arsip publik kami ."

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement