“Untuk dapat menghasilkan produk pangan yang berdaya saing dengan kuantitas dan kualitas tinggi serta kontinyu, maka kita tidak dapat meninggalkan PHT,” ujarnya.
Ia melanjutkan, tantangan PHT ke depan adalah bagaimana dapat bersinergi dengan baik antar semua stakeholder. Selain itu, juga dapat menyambungkan sistem PHT dengan kebijakan-kebijakan bidang pertanian saat ini, seperti IP 400, LTT dan lain-lain agar PHT tetap dapat menjiwai setiap usaha produksi pangan, sehingga produksi pangan tetap tinggi, dan berkelanjutan, serta dapat mencapai kedaulatan pangan nasional.
Sejalan dengan Sutarto, Pakar PHT yang juga pengajar di Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Brawijaya, Gatot Mudjiono, menyampaikan bahwa PHT ke depan harus dapat menjawab pertanyaaan-pertanyaan yang merupakan tantangan zaman.
“Sistem PHT ke depan harus meningkat tidak hanya sekedar mengendalikan OPT namun harus dapat mengelola OPT dan agroekosistemnya. Dengan demikian PHT harus dapat menjawab: 1) Mengapa agroekosistem begitu rentan terhadap OPT?, 2) Bagaimana membuat agroekosistem agar lebih tangguh terhadap OPT? Apabila PHT mampu menjawab tantangan atas pertanyaan tersebut di atas, niscaya PHT ke depan akan lebih tangguh dan mantap sebagai implementasi perlindungan tanaman,” ujar Gatot.
Menyambung pernyataan Gatot mengenai PHT, lebih lanjut disampaikan oleh petani yang sukses dengan PHT, Abdul Haris Suhud dari Lamongan Jawa Timur menyatakan dalam sharingnya bahwa awal dari pelaksanaan PHT di daerahnya adalah karena gagal panen yang disebabkan oleh serangan hama wereng cokelat dan kepinding tanah.
Pengalaman pahit para petani ini membawa mereka untuk belajar dan menekuni PHT, hingga pada akhirnya para petani tersebut merasa memperoleh beberapa keuntungan dari PHT.Kini mereka mantap untuk terus menerapkan PHT dalam usaha taninya guna menghasilkan pangan yang sehat dengan biaya yang efisien dan produksi yang lebih tinggi.