Share

Covid-19 di India Dikhawatirkan Timbulkan 'Tsunami Diabetes', Mengapa Demikian?

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 16 Agustus 2021 05:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 16 18 2456092 covid-19-di-india-dikhawatirkan-timbulkan-tsunami-diabetes-mengapa-demikian-KXaqOOyIGn.jpg Covid-19 di India (Foto: Reuters)

INDIA - September tahun lalu, Vipul Shah berjuang melawan Covid-19 selama 11 hari dalam perawatan kritis di sebuah rumah sakit di Mumbai.

Shah, yang tidak punya riwayat diabetes, diberikan steroid yang digunakan untuk mengobati infeksi virus corona.

Steroid mengurangi peradangan di paru-paru akibat Covid-19 dan tampaknya membantu menghentikan beberapa kerusakan yang bisa terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bekerja berlebihan untuk melawan virus.

Tetapi steroid juga mengurangi kekebalan dan meningkatkan kadar gula darah pada pasien Covid-19, baik yang mengidap diabetes maupun tidak.

Hampir setahun setelah pemulihan, Shah, 47 tahun, masih menjalani pengobatan untuk mengontrol gula darahnya.

"Saya tahu banyak orang seperti saya yang minum obat diabetes setelah sembuh dari Covid-19," kata Shah, seorang pedagang saham.

(Baca juga: Taliban Siap Masuk Kabul, AS dan Beberapa Negara Barat Evakuasi Diplomat)

India menyumbang satu dari enam pengidap diabetes di dunia. Negara itu memiliki sekitar 77 juta orang yang hidup dengan penyakit ini, kedua terbanyak setelah China. Para dokter memperkirakan ada jutaan penderita lainnya yang tidak terdiagnosis.

Diabetes terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya secara efektif. Ini menyebabkan peningkatan konsentrasi gula (glukosa) dalam darah dan menimbulkan risiko kesehatan yang serius, termasuk kerusakan pada ginjal, mata, dan jantung.

(Baca juga: Situasi Afghanistan Memburuk, AS Klaim Masih Kuasai Kedubes & Bandara Kabul)

Diabetes adalah salah satu dari sekelompok kondisi bawaan atau komorbid yang membuat seseorang berisiko menderita Covid-19 yang parah. Kondisi lainnya adalah obesitas, tekanan darah tinggi, serta penyakit jantung dan paru-paru.

Sekarang para dokter khawatir sejumlah besar pasien yang sudah pulih dari Covid-19 berisiko terkena diabetes. Dengan hampir 32 juta infeksi yang tercatat, India memikul beban kasus Covid-19 terbesar kedua di dunia, setelah AS.

"Kekhawatirannya adalah bahwa Covid-19 dapat memicu tsunami diabetes di India setelah pandemi berakhir," terang Dr Rahul Baxi, ahli diabetes yang berbasis di Mumbai.

Dia mengatakan 8-10% pasiennya yang tertular Covid-19 tanpa riwayat diabetes terus mengalami kadar gula tinggi beberapa bulan setelah pemulihan dan masih menjalani pengobatan.

"Beberapa menderita diabetes ambang. Pasien lainnya masih harus minum obat sampai setahun setelah pemulihan," katanya.

  • Jamur hitam dan diabetes

Dokter di seluruh dunia memperdebatkan apakah Covid-19 itu sendiri yang menyebabkan diabetes pada pasien yang tidak memiliki riwayat penyakit itu.

Hal tersebut dapat disebabkan oleh tiga hal: penggunaan steroid dalam pengobatan; badai sitokin ketika sistem kekebalan tubuh bekerja berlebihan untuk melawan virus corona; dan virus corona melukai sel-sel di pankreas yang membuat insulin.

Sebuah studi baru-baru ini oleh sekelompok dokter di India, yang telah melalui proses telaah sejawat, mengindikasikan adanya hubungan antara mucormycosis atau infeksi "jamur hitam" yang mematikan dengan kemunculan diabetes.

India telah melaporkan lebih dari 45.000 kasus infeksi jamur ini, yang menyerang hidung, mata, dan kadang-kadang otak, dan biasanya menyerang 12-18 hari setelah sembuh dari Covid-19.

Studi ini menemukan bahwa 13 dari 127 pasien - atau 10% dari kasus - untuk pertama kalinya mengalami diabetes. Rata-rata usia mereka sekitar 36 tahun. Temuan terpenting, tujuh di antara mereka tidak diberikan steroid atau oksigen tambahan saat sakit Covid-19.

"Namun, pasien-pasien ini mengalami peningkatan gula darah. Ini membuat kami khawatir bahwa pada tahun-tahun mendatang akan terjadi wabah diabetes," ujar Dr Akshay Nair, seorang ahli bedah mata dan salah satu peneliti.

Studi lain terhadap 555 pasien dari dua rumah sakit di Delhi dan Chennai (Madras) menemukan bahwa mereka yang telah didiagnosis diabetes setelah tertular Covid-19 memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki riwayat diabetes sebelumnya.

Dr. Anoop Misra, seorang ahli diabetes dan salah satu peneliti dalam studi ini, mengatakan bukti-bukti yang muncul tentang kaitan antara Covid-19 dan diabetes menunjukkan gambaran yang "kompleks".

Beberapa pasien baru didiagnosis menderita diabetes - menggunakan tes tingkat hemoglobin A1c, yang memberikan rata-rata tiga bulan pengukuran gula darah - saat mereka dirawat untuk Covid-19 di rumah sakit.

Ada kemungkinan pasien-pasien ini sudah menderita diabetes sebelumnya dan tidak pernah dites.

Atau, mereka baru mengalami diabetes setelah diberikan steroid selama pengobatan.

Setelah keluar dari rumah sakit, beberapa pasien mengalami kadar gula darah mereka kembali normal, sementara untuk yang lain, seperti Shah, mereka masih berada di atas kisaran tersebut.

"Penilaian kami adalah bahwa pasien seperti itu mungkin cenderung terkena diabetes karena obesitas dan riwayat keluarga," ujar dr. Misra.

Kelompok pasien yang "lebih jarang" adalah mereka yang menderita diabetes parah karena virus corona merusak pankreas mereka. Pasien tersebut dapat memiliki diabetes tipe 1 (tubuh yang tidak dapat membuat insulin) dan tipe 2 (tubuh yang membuat terlalu sedikit insulin).

Pankreas, termasuk bagian yang membuat insulin, adalah target virus corona, menurut Prof Guy Rutter dari Imperial College London.

"Virus tampaknya menggunakan reseptor yang berbeda di pankreas daripada di bagian lain tubuh. Sejauh mana infeksi mereka berdampak langsung pada sel penghasil insulin dibandingkan badai sitokin masih diperdebatkan," terang Prof. Rutter.

Yang belum jelas ialah apakah diabetes "baru" pada pasien Covid-19 yang sudah pulih bersifat permanen.

"Saya menduga masalah besarnya dari perspektif India ialah dengan begitu banyak orang yang menderita diabetes, kemungkinan sakit parah dan kematian akibat Covid-19 jauh lebih tinggi daripada di negara-negara dengan beban penyakit yang lebih rendah," jelas Prof Rutter.

Para dokter percaya India pasti akan menghadapi beban diabetes yang lebih tinggi setelah pandemi berakhir.

Lockdown ketat di India membuat banyak orang berada di dalam ruangan, bekerja dari rumah, memesan makanan, dan sedikit berolahraga. Banyak yang menderita kecemasan dan depresi.

"Saya melihat banyak kasus baru diabetes pada orang-orang seperti itu. Ini membuat saya khawatir lebih dari apa pun," ungkap dr. Misra.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini