Kelompok pasien yang "lebih jarang" adalah mereka yang menderita diabetes parah karena virus corona merusak pankreas mereka. Pasien tersebut dapat memiliki diabetes tipe 1 (tubuh yang tidak dapat membuat insulin) dan tipe 2 (tubuh yang membuat terlalu sedikit insulin).
Pankreas, termasuk bagian yang membuat insulin, adalah target virus corona, menurut Prof Guy Rutter dari Imperial College London.
"Virus tampaknya menggunakan reseptor yang berbeda di pankreas daripada di bagian lain tubuh. Sejauh mana infeksi mereka berdampak langsung pada sel penghasil insulin dibandingkan badai sitokin masih diperdebatkan," terang Prof. Rutter.
Yang belum jelas ialah apakah diabetes "baru" pada pasien Covid-19 yang sudah pulih bersifat permanen.
"Saya menduga masalah besarnya dari perspektif India ialah dengan begitu banyak orang yang menderita diabetes, kemungkinan sakit parah dan kematian akibat Covid-19 jauh lebih tinggi daripada di negara-negara dengan beban penyakit yang lebih rendah," jelas Prof Rutter.
Para dokter percaya India pasti akan menghadapi beban diabetes yang lebih tinggi setelah pandemi berakhir.
Lockdown ketat di India membuat banyak orang berada di dalam ruangan, bekerja dari rumah, memesan makanan, dan sedikit berolahraga. Banyak yang menderita kecemasan dan depresi.
"Saya melihat banyak kasus baru diabetes pada orang-orang seperti itu. Ini membuat saya khawatir lebih dari apa pun," ungkap dr. Misra.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.