Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tak Mampu Melihat, Parjan Tetap Panjat Pohon Kelapa Demi Pendidikan Anak-Anaknya

Budi Utomo , Jurnalis-Senin, 23 Agustus 2021 |09:39 WIB
Tak Mampu Melihat, Parjan Tetap Panjat Pohon Kelapa Demi Pendidikan Anak-Anaknya
Parjan tetap bekerja memanjat pohon dan mengambil nira demi pendidikan kedua putrinya. (Foto: MPI)
A
A
A

KULONPROGO – Kekurangan dalam hal penglihatan tidak menghalangi Teguh Parjan, seorang warga Kalirejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta untuk berusaha keras, bekerja untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya.

Pria berusia 53 tahun yang mengalami kebutaan itu setiap hari memanjat puluhan pohon kelapa demi mendapatkan nira sebagai bahan baku pembuatan gula merah. Pekerjaan sebagai penderes itu rela dilakono Parjan untuk mencukupi kebutuhan biaya sekolah kedua anaknya.

BACA JUGA: Masya Allah, Pasutri Penyandang Tuna Netra Ajarkan Sesama Belajar Baca Al-Aquran Braile

Meski tidak dapat melihat, Parjan tetap tangkas melakukan berbagia pekerjaan yang umum dilakukan warga lainnya seperti mencangkul dan kegiatan lainnya. Ditemani Kamsih, sang istri, Parjan menjalani hari-harinya dengan penuh ikhlas.

Usai menyelesaikan pekerjaan rumah, setiap pagi Parjan melanjutkan aktivitas rutinnya seperti banyak warga lain yang tinggal di Perbukitan Menoreh, yaitu menderes nira. Meski memiliki keterbatasan dalam penglihatan, Parjam tetap cekatan mempersiapkan peralatan untuk menderes.

BACA JUGA: Cerita Bocah Tuna Netra Jago Sholawatan, Doakan Khofifah Tetap Sehat & Amanah

Setelah pisau arit dan bumbung (wadah bambu) disiapkan, Parjan langsung menuju ladang. Dia menempuh perjalanan tanpa alat bantu, hanya dengan mengandalkan ingatan.

Sesampainya di ladang, Parjan dengan cekatan menapak pohon kelapa hingga puncak untuk menderes nira. Setiap harinya tak kurang dari 20 pohon di sekitar rumah selalu ia panjat untuk diambil niranya.

Aktivitas ini dilakukan dua kali, yakni pada pagi dan sore hari.

Bumbung yang telah penuh terisi nira kemudian dibawa pulang untuk dimasak hingga menjadi gula merah, yang kemudian dibawa ke pasar untuk dijual. Hasil penjualan gula merah digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan biasa sekolah kedua anaknya di pesantren.

Parjan bekerja sebagai penderes dan pembuat gula merah karena keterbatasannya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement