Pada tahun 1656 pasukan Banten yang bermarkas di Angke dan Tangerang mengadakan gerilya besar-besaran, dengan mengadakan pengrusakan kebun-kebun tebu dan penggilingan-penggilingannya, pencegatan serdadu-serdadu patroli Belanda, pembakaran markas patroli, dan beberapa pembunuhan orang-orang Belanda, yang semuanya dilakukan pada malam hari.
Setelah terjadi beberapa kali pertempuran yang banyak merugikan kedua belah pihak, maka sekitar bulan November dan Desember 1657 Kompeni mengajukan usul gencatan senjata. Perjanjian gencatan senjata ini tidak segera dapat disepakati, karena syarat-syarat perjanjian itu belum semuanya disepakati. Karena kepentingan Belanda dan kepentingan Banten selalu berbeda.
Tanggal 29 April 1658 datanglah utusan Belanda ke Banten membawa surat dari Gubernur Jendral Kompeni yang berisi rangcangan perjanjian persahabatan. Usul perdamaian ini terdiri dari 10 pasal, salah satunya Banten harus membayar kerugian perang berupa 500 ekor kerbau dan 1.500 ekor sapi.
Lalu Blokade Belanda atas Banten akan dihentikan setelah Sultan Banten menyerahkan pampasan perang, Kantor perwakilan Belanda di Banten harus diperbaiki atas biaya dari Banten, Sultan Banten harus menjamin keamanan dan kemerdekaan perwakilan kompeni di Banten.
Dari rancangan naskah perjanjian yang diajukan kompeni ini, Sultan ‘Abulfath dapat melihat kecurangan dan ketidaksungguhan kompeni atas pedamaian. Kompeni hanya mengharapkan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan rakyat Banten. Oleh karenanya pada tanggal 4 Mei 1658, Sultan mengirimkan utusan ke Batavia untuk mengajukan perubahan atas rancangan naskah perjanjian itu, usulan Sultan pun ditolak oleh kompeni Belanda.
Oleh karena itu, pada 11 Mei 1658 dikirimnya surat balasan yang menyatakan bahwa Banten dan kompeni Belanda tidak akan mungkin bisa berdamai. Tiada jalan lain yang harus ditempuh kecuali perang. Sejak itulah Sultan Abulfath Abdulfattah mengumumkan “perang sabil” menghadapi kompeni Belanda.
Seluruh kekuatan angkatan perang Banten dikerahkan ke daerah-daerah perbatasan, maka terjadilah pertempuran besar di darat dan laut. Pertempuran ini berlangsung tanpa henti-hentinya sejak bulan Mei 1658 sampai dengan tanggal 10 Juli 1659. (din)
(Rani Hardjanti)