5 Fakta Mencengangkan Pria Tampar Presiden Prancis, Tak Menyesal Meski Dipenjara

Lutfia Dwi Kurniasih, Okezone · Selasa 14 September 2021 20:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 14 18 2471065 5-fakta-mencengangkan-pria-tampar-presiden-prancis-tak-menyesal-meski-dipenjara-KmYzOySINd.jpg Emmanuel Macron. (Foto: Telle Report)

PRANCIS - Seorang pria di Prancis terjerat kasus pengadilan karena menampar Presiden Prancis Emmanuel Macron pada awal Juni lalu. Pria bernama Damien Tarel (28) divonis hukuman 18 bulan, dengan 14 bulan ditangguhkan.

Setelah menjalani hukumannya, ia dibebaskan pada Sabtu (11/9/2021). Berikut fakta tentang pria yang memukul Presiden Macron saat menyapa kerumunan penonton selama perjalanan ke Prancis Selatan.

1. Didasari Tindakan Politik

Dalam wawancara dengan radio France Bleu, setelah dibebaskan pria itu menyebut tindakannya hari itu sebagai “tindakan politik.”

"Montjoie, Saint-Denis!" – seruan perang Prancis abad pertengahan – dan “Turunkan Macronia!” terang Tarel, penggemar ilmu pedang sejarah, ketika dia memukul Presiden.

“Hari itu saya datang untuk menantang Presiden Emmanuel Macron,” kata Tarel setelah dibebaskan.

“Saya tidak percaya bahwa demokrasi memberikan suara setiap lima tahun sekali untuk seorang wakil yang pada akhirnya tidak mewakili banyak orang,” lanjutnya. 

Baca juga: Digambarkan Sebagai Hitler, Presiden Prancis Gugat Pemilik Papan Reklame

2. Dipenjara dan Didenda Rp780 Juta

Tarel muncul di hadapan pengadilan pada Kamis 10 Juni 2021. Persidangan berlangsung sangat cepat, digelar hanya dua hari setelah insiden tamparan itu.

Tarel dituduh melakukan penyerangan terhadap pejabat publik, dengan pelanggaran yang membawa hukuman maksimal tiga tahun penjara dan denda besar hingga €45.000 (sekira Rp780 juta). 

Jaksa meminta pengadilan untuk memberi Tarel hukuman penjara 18 bulan daripada menjatuhkan denda padanya, serta mengenakan hukuman lain untuknya. Pengadilan memihak jaksa hampir sepenuhnya, memberikan terdakwa hukuman penjara empat bulan dengan 14 bulan ditangguhkan selama dua tahun.

3. Tidak Menyesal

Kepada BFM TV Damien Tarel mengatakan bahwa dia merasa tidak menyesal karena menyerang kepala negara Prancis.

“Saya menyayangkan kekerasan fisik. Namun demikian, itu hanya tamparan kecil. Saya percaya Macron telah pulih dengan sangat baik,” katanya. 

“Jika saya harus kembali ke masa lalu, saya akan melakukan hal yang sama lagi. Saya tidak menyesal,” terangnya.

4. Dapat Surat Dukungan

Setelah menghabiskan beberapa bulan di balik jeruji besi karena menampar Presiden Prancis dia telah menerima banyak surat yang mendukung 'tindakan politiknya'.

Tarel mengaku menerima "ratusan" surat dukungan selama berada di balik jeruji besi. 

“Saya terkejut melihat betapa banyak orang memahami makna politik dari tindakan saya,” jelasnya.

Selama persidangan, Tarel berbicara dengan simpatik tentang apa yang disebut protes 'Rompi Kuning' - demonstrasi anti-pemerintah skala besar, yang memuncak pada 2018 dan 2019.

5. Dikecam Banyak Pihak 

Presiden Macron menekankan bahwa kekerasan terhadap pejabat publik tidak dapat diterima. Serangan terhadap Presiden itu juga dikutuk oleh banyak politisi terkemuka di Prancis, termasuk lawan Macron.

Diketahui kini Tarel berencana menghadiri protes terhadap izin kesehatan Covid-19 dalam waktu dekat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini