Lonjakan kasus pada bulan Juli itu, kata Wiku, dikarenakan adanya mobilitas serta tradisi saat lebaran yang akhirnya menimbulkan gelombang kedua.
“Dan setelah kembali dari mudik yang lolos tidak melakukan karantina padahal kita sudah sarankan ya terjadilah penularan itu. Sedangkan yang tidak pergi ternyata mereka punya kebiasaan kalau bahasa Jawanya “unjung-unjung” gitu ya untuk pergi ke saudara atau apa kerabat dekat di kotanya masing-masing di wilayah aglomerasi yang akhirnya menimbulkan gelombang besar. Dan akhirnya juga akhirnya terjadi gelombang kedua,” kata Wiku.
Sebenarnya, Wiku mengatakan puncak gelombang kedua Indonesia dengan dunia berselang 3 bulan.
“Jadi ada selang 3 bulan antara gelombang yang ada di dunia dengan di kita. Tapi penyebabnya beda ya. Artinya kalau kita bisa menjaga border dengan baik, berbatasan dengan baik, harusnya gelombang di luar negeri nggak kena ke kita. Tapi kalau kita bobol, maka kita bisa terdampak dari dalam negeri plus dari luar,” paparnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.