“Sedangkan Indonesia, saya masih ingat kita membuat aturan-aturan untuk mencegah Nataru itu dengan mengatur perjalanan ke luar negeri, begitu juga dalam negeri. Jadi kita coba cegah tapi ternyata nggak mampu efektif untuk tidak timbul ledakan. Dan terjadi delay seperti ini,” kata Wiku.
Tapi prinsipnya, kata Wiku, puncak kasus dunia dan Indonesia sebetulnya di waktu yang kurang lebih sama. Dan penyebabnya pun sama yakni aktivitas keagamaan. “Penyebabnya sama aktivitas keagamaan, itu poin pentingnya. Cuma bedanya cuma delay, sama besaran Indonesia berarti mengkontribusi pada puncak dunia juga kan kelihatan disitu,” tuturnya.
Baca Juga: Tingkat Kesembuhan Covid-19 di Jakarta Capai 98,2%
Namun, Wiku mengatakan giliran di bulan April ada gelombang kedua di negara lain, contohnya India, Indonesia tidak ada. “Kenapa? Karena aktivitas penyebabnya memang beda. Di sana ada aktivitas agama yang berbeda yang kita nggak ada,” tuturnya.
“Populasi kita untuk yang agama Hindu sangat sedikit yang tidak menimbulkan gelombang besar seperti di India yang terus mengakibatkan kontribusi yang besar dan menyebabkan di negara lainnya, tapi tidak di Indonesia,” imbuhnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.