Gajah Mada berhasil mengembalikan tahta Raja Jayanegara. Dalam waktu singkat ia berhasil menghancurkan Ra Kuti beserta para pengikutnya. Semua binasa, kecuali Ra Tanca. Tidak hanya lolos dari penumpasan. Ra Tanca yang memiliki kemampuan medis kembali mengabdi pada Raja Jayanegara.
"Setelah raja Jayanegara kembali ke Majapahit, sebenarnya komplotan dharmaputra raja belum tertumpas sama sekali. Dharmaputra Tanca masih hidup," kata Slamet Muljana. Sembilan tahun paska pemberontakan Ra Kuti dan Ra Tanca kembali aktif mengabdi di istana. Suatu hari, setelah mendapat laporan istrinya, Ra Tanca mengadukan perbuatan tidak senonoh Raja Jayanegara kepada Gajah Mada.
Nyai Makacaru, istri Ra Tanca mengaku menyaksikan dengan mata kepala sendiri Jayanegara berusaha berbuat tidak senonoh kepada Tribuwanatunggadewi dan Radjadewi Maharadjasa. Ia mengadukan hal itu ke suaminya. Sementara sudah lama terdengar Jayanegara melarang keduanya menikah dan bermaksud mengawini sendiri.
Baca juga: Pengkhianatan Pejabat Majapahit Berujung Serangan ke Lumajang
Karenanya para ksatria yang mencoba mendekati saudara tirinya tersebut, selalu ia halau. Mendapat laporan itu Gajah Mada yang dihadiahi kedudukan patih Kahuripan paska menumpas pemberontakan Ra Kuti, hanya diam. Ra Tanca yang dari dulu tidak menyukai prilaku Jayanegara, merasa jengkel.
Ra Tanca seperti mendapat momentum saat mendengar penyakit bubuh atau bisul Jayanegara kambuh. Raja Majapahit itu hanya bisa tergolek di pembaringan sambil mengerang kesakitan. Ra Tanca yang memiliki kemampuan medis dipanggil untuk melakukan operasi. Satu kali pembedahan gagal. Begitu juga dengan pembedahan yang kedua kalinya.
Pada pembedahan yang ketiga, Ra Tanca berhasil mengiris bisul. Namun sekalian ia tikamkan belati bedah pada tubuh Jayanegara. Di atas tempat tidurnya, Raja Majapahit itu tewas seketika. Melihat insiden pembunuhan itu, Gajah Mada yang berada di lokasi langsung bergerak menikam Ra Tanca.
Tabib Istana yang bekas dharmaputra itu tewas seketika di lokasi yang sama. Tragedi itu berlangsung tahun Saka 1250 atau tahun Masehi 1328. Setelah Raja Jayanegara mangkat, Gajah Mada mengangkat Bhre Kahuripan dan Bhre Daha memegang tampuk pemerintahan Majapahit. Kelak keturunan mereka yang bernama Hayam Wuruk membawa jaman keemasan Majapahit.
Baca juga: Kegagalan Gajah Mada Habisi Nyawa Raja Malaka
Langkah politik Gajah Mada mendapat sambutan positif dari orang-orang Majapahit yang tidak menyukai keturunan Dara Petak yang berasal dari Negeri Melayu. Gajah Mada juga mendapat banyak simpati dari orang-orang Singasari. Sementara di sisi lain dengan membunuh Ra Tanca ia juga memperoleh simpati dari pengikut Jayanegara.
"Gajah Mada memberi kesan baik bahwa ia bertindak untuk menegakkan kembali hak keturunan Raja Kertanegara (Raja Singasari terkahir)," tulis Slamet Muljana dalam "Menuju Puncak Kemegahan, Sejarah Kerajaan Majapahit".
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.