Warga di Kabul, Afganistan, menjual berbagai perabot rumah tangga supaya bisa membeli makanan bagi keluarga. Pemandangan ini menjadi sering dijumpai di sana seiring meningkatnya jumlah penduduk miskin.
Ajmal (namanya pun disamarkan), yang juga pernah bekerja di sebuah instansi pemerintah di ibu kota Kabul, membenarkan bahwa sejumlah mantan pejabat pemerintah kini harus berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup. "Sayangnya, para mantan pejabat sekarang harus mengemis, dan beberapa orang bahkan menjadi buruh dengan upah harian," kata Ajmal kepada DW.
Bahkan orang-orang yang memiliki tabungan di bank juga harus berjuang untuk bisa membayar makanan dan kebutuhan rumah tangga lain. Bank di Afganistan memberlakukan pembatasan ketat penarikan uang tunai sebagai antisipasi agar tidak kehabisan cadangan kas.
Pemerintah Taliban baru-baru ini juga melarang penggunaan mata uang asing untuk melakukan transaksi besar seperti membeli mobil atau rumah. Mereka mengatakan semua kontrak harus dilakukan dalam mata uang Afganistan.