Kartu Vaksinasi Palsu Dijual Seharga Rp3 Juta, Penipuan Terkait Covid-19 Meningkat

Agregasi VOA, · Jum'at 12 November 2021 07:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 12 18 2500559 kartu-vaksinasi-palsu-dijual-seharga-rp3-juta-penipuan-terkait-covid-19-meningkat-Ayn4tTUBuE.jpg Kartu vaksin Covid-19 palsu (Foto: AP via VOA)

NEW YORK - Pakar keamanan siber menyatakan ribuan akun media sosial menawarkan kartu vaksinasi palsu seharga sektar Rp2,8 juta. Pakar keamanan pun berjanji menambahkan catatan vaksinasi palsu ke dalam basis data elektronik.

Kebanyakan warga Amerika Serikat (AS) yang divaksinasi membuktikan telah divaksinasi dengan membawa selembar kertas kecil yang diisi dengan tulisan tangan. Kartu ini berisi nama lengkap seseorang, tanggal lahir, jenis vaksin, jumlah dosis dan nomor batch.

Menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS), catatan itu dirancang untuk menginformasikan, bukan melindungi dari penipuan,

“Kartu itu sendiri diperuntukkan sebagai alat komunikasi antara penyedia layanan kesehatan dan pasien untuk menunjukkan bahwa mereka telah divaksinasi. Bahkan menjadi pengingat untuk menunjukkan jika tiba waktunya, bahwa dosis kedua sudah perlu diberikan,” terang Isaac Bledsoe dari Kantor HHS.

Baca juga: AS Sita 3.000 Kartu Vaksinasi Covid-19 Palsu Asal China

Kartu tersebut masih banyak digunakan sebagai bukti vaksinasi di AS hingga saat ini. Ketika semakin banyak perusahaan yang meminta bukti vaksinasi, pejabat mengungkapkan semakin banyak kartu palsu yang beredar.

“Kami menyaksikan dari awal tahun 2021, ketika kami menerima antara 5-6 keluhan per hari ke sekarang barangkali sekitar 20-25 keluhan per hari melalui hotline terkait kartu vaksinasi palsu,” lanjutnya.

Baca juga:  Aturan Baru KAI, Syarat Penumpang Naik KRL hingga Kereta Bandara Wajib Tunjukkan Kartu Vaksin

Pakar keamanan siber mengatakan situs yang menawarkan kartu vaksin palsu telah berpindah dari darknet atau situs gelap internet yang menawarkan jasa atau barang ilegal ke situs-situs yang biasa digunakan di internet.

“Ini situasi yang sangat buruk. Mereka menggunakan Facebook, Instagram, Telegram, dan WhatsApp untuk memasarkan dan mempromosikan kartu-kartu itu,” jelas Eric Feinberg dari Coalition for a Safer Web.

Di grup online tertentu, kartu vaksinasi palsu ditawarkan secara terbuka dan ada klien yang senang dan mempublikasikan foto mereka dengan kartu palsu itu. Para ahli dari Coalition for a Safer Web bahkan mencoba sendiri, pemalsu kartu vaksinasi merespon dengan cepat dan menjamin penyerahan kartu yang bisa dilakukan ke seluruh AS.

Beberapa pakar dari Check Point Software Technologies menyatakan penjualan meningkat secara dramatis setelah pemerintah mengeluarkan mandat atau kewajiban divaksinasi untuk pegawai federal.

Mereka juga menambahkan salah satu solusi yang mungkin adalah mengembangkan sebuah database vaksinasi federal terpadu dan kartu digital yang memverifikasi status vaksinasi – sesuatu yang sudah dilakukan beberapa negara Eropa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini