Sebagian besar perhatian seputar serangan itu difokuskan pada tersangka pelaku, yang terlihat seperti mengenakan jas warna ungu mirip kostum Joker.
Jepang adalah negara yang sangat aman. Tokyo diketahui sangat berberda dari setiap kota besar lainnya di dunia. Jenis kejahatan kecil yang biasa terjadi di kota lain, seperti di London atau New York, tidak ada di sana.
Ketika serangan kekerasan bahkan tindak pembunuhan terjadi baru-baru ini di kereta bawah tanah yang penuh itu memicu alarm tanda bahaya. Serangan yang disebut "Joke attack on Halloween night" telah membuat banyak penumpang kereta bertanya mengenai keamanan mereka untuk menggunakan kereta bawah tanah. Disisi lain, pihak berwenang berusaha keras untuk meyakinkan warga Tokyo bahwa semuanya sedang dilakukan untuk tetap menjaga keamanan.
Baca juga: Serangan Pisau di Kereta, 17 Terluka, Pelaku Ditangkap di Tempat Kejadian
Serangan ini juga memicu spekulasi media mengenai tersangka pelaku dan apakah mungkin ada orang lain "di luar sana" yang seperti dia. Kejadian ini memiliki banyak kemiripan dengan film Joker, mulai dari setting kereta api dan kostum "Joker" yang dikenakan oleh terdakwa berusia 24 tahun itu.
Terdakwa dilaporkan mengatakan kepada interogatornya bahwa dia "menyembah karakter Joker" dan ingin "membunuh sebanyak mungkin orang".
Baca juga: Saksi Mata: Pelaku Penikaman 17 Orang di Kereta Mengenakan Kostum Joker
Dilansir dari BBC News, psikolog kriminal mengatakan bahwa tujuan sebenarnya dari kostum dan waktunya bukanlah untuk meniru, tetapi untuk menarik perhatian pada kemarahan yang dia lakukan. "Saya pikir dia ingin menonjol," kata Profesor Yasuyuki Deguchi seorang psikolog kriminal di Universitas Tokyo Mirai.
"Dia adalah seorang pencari perhatian yang terdistorsi. Dengan berdandan sebagai Joker di malam Halloween, dia pikir dia akan lebih menonjol. Dengan bertingkah seperti Joker dan mengatakan dia mengaguminya, dia bisa mendapatkan lebih banyak perhatian dari orang-orang. Saya tidak berpikir dia memutuskan untuk meniru Joker karena dia melihat filmnya," lanjutnya.
Salain itu, sejumlah psikolog kriminal mengatakan ini bukan kejahatan seorang psikopat. Karena serangan massal jarang dilakukan oleh penderita gangguan jiwa yang teridentifikasi. Sebaliknya, mereka cocok dengan pola yang berbeda. Kejahatan itu banyak dilakukan oleh laki-laki yang merasa ditolak oleh masyarakat.
"Isolasi sosial atau kurangnya ikatan sosial adalah salah satu faktor risiko terbesar untuk tindak kriminal, seperti pembunuhan massal dan kejahatan sangat serius lainnya" terang Profesor Takayuki Harada, psikolog kriminal di Universitas Tsukuba.
"Jadi, mereka tidak punya saudara, tidak ada orang yang dicintai, tidak ada pekerjaan dan tidak ada ikatan sosial. Mereka kecewa dengan masyarakat dan sangat memusuhi masyarakat. Mereka juga bunuh diri," tambahnya.
Psikolog mengatakan pandemi mungkin telah mengintensifkan kesulitan ekonomi dan isolasi sosial, keduanya kemungkinan menjadi pemicu. Termasuk tekanan hidup yang dialami. Mereka juga prihatin dengan jumlah perhatian media yang ditarik oleh serangan joker.
"Ketika insiden serupa terjadi (di masa lalu) kita melihat peniru pasti muncul," kata Profesor Harada.
"Jadi saya pikir itu masalah yang media berikan detail, informasi, bagaimana kejahatan itu dilakukan. Jadi, saya pikir ini masalah besar,"lanjutnya.
Dua jam sebelum terjadi penusukan di kereta api bawah tanah di Jepang, Kyota Hattori mengunjungi distrik Shibuya di Tokyo. Distrik yang ramai dengan warga yang merayakan pesta kostum di malam Halloween.
Ia kemudian menumpangi kereta menuju Shunjuku, stasiun yang cukup ramai di Tokyo. Kereta yang melaju dari Hachoji dengan membawa penumpang lansia serta remaja berkostum Halloween menjadi tempat aksi brutal penusukan penumpang oleh Kyota Hattori.
Di dalam kereta yang sedang melaju, Kyota Hattori menusuk penumpang menggunakan pisau, serta membakar gerbong dengan meuangkan botol berisi cairan yang mudah terbakar.
Para ahli Psikolog mengatakan, belum tahu banyak tentang pria yang diduga melakukan serangan "Joker". Tetapi tak sedikit para ahli yanh menyamakannya dengan kejadian yang lain di Tokyo pada tahun 2008. Ketika seorang pria muda mengendarai truk menuju kerumunan pembeli di distrik elektronik Akihabara dan kemudian mulai menikam orang-orang di sekitarnya.
Pria yang melakukan serangan tahun 2008 itu berasal dari keluarga elit yang memiliki tekanan tinggi. Tapi dia gagal dalam ujian masuk universitas dan berakhir dengan pekerjaan kasar. Sebelum melakukan serangan, dia sudah mencoba bunuh diri dan memposting pesan di internet yang menguraikan rencananya untuk membunuh orang lain.
"Ini seperti terorisme, tapi bukan terorisme," ujar kriminolog lain yang tidak ingin namanya disebutkan.
“Itu ulah orang biasa atau orang lemah, orang yang pernah di-bully. Mereka cenderung menumpuk stres. Mereka memiliki keinginan untuk bunuh diri, jadi mereka berpikir 'jika saya akan bunuh diri, sebaiknya saya membawa orang lain bersama saya'. Mereka terutama ingin menyalahkan orang lain atas situasi yang mereka hadapi," lanjutnya.
Jepang sangat terkenal dengan tingkat bunuh diri yang tinggi. Tetapi agresi dan jenis perilaku kriminal lainnya sangat rendah. Orang Jepang cenderung mengubah agresi ke dalam. Jadi itulah salah satu alasan mengapa perilaku agresif sangat rendah di negara ini. Namun, ada persepsi bahwa serangan seperti ini semakin sering terjadi di Jepang. Ada tiga serangan terhadap sistem kereta bawah tanah Tokyo sejak Agustus.
Meski kejadian ini terlihat seperti salah satu percobaan serangan peniru. Namun, para ahli mengatakan selama 50 tahun terakhir kekerasan laki-laki telah menurun secara dramatis, dan bahwa Tokyo tetap menjadi salah satu tempat teraman di dunia.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.