NEW YORK - Seiring upaya dunia untuk memastikan pemerataan akses vaksin Covid-19, para ilmuwan juga berpacu dengan waktu untuk mengembangkan vaksin-vaksin yang lebih ampuh demi meredam pandemi virus corona. Salah satunya dilakukan oleh Novalia Pishesha, junior fellow atau peneliti junior di Society of Fellows, Universitas Harvard.
Nova, nama panggilannya, pada awal November 2021, menerbitkan jurnal ilmiah tentang kandidat vaksin Covid-19 berbasis protein yang ia kembangkan, yang menyasar langsung sel-sel penyaji antigen (antigen-presenting cells/APCs), pada jurnal PNAS (Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America). Ia beserta timnya mengujicobakan vaksin itu terhadap tikus muda dan tua. Hasilnya, metode itu memicu kekebalan tubuh tikus terhadap SARS-CoV-2 – virus penyebab Covid-19 – dan variannya.
“Kandidat vaksin ini 100% efektif, karena semua tikus – jika Anda lihat datanya – terlindungi,” ujar Nova di kantornya, di Boston Children’s Hospital, Massachusetts, Amerika Serikat (AS) saat diwawancarai VOA melalui Skype (20/10).
Baca juga: 3 Peneliti Asal Indonesia yang Lakukan Penelitian soal Covid-19
Nova mulai memimpin penelitian itu bersama koleganya, Hidde Ploegh dan Thibault J. Harmand, pada April 2020, sebulan setelah pengumuman status pandemi Covid-19 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kala itu, ia terpantik gagasan untuk menggunakan teknologi nanobodi, yang sebelumnya ia kembangkan untuk pengobatan penyakit autoimun.
Vaksin buatannya mengandung dua komponen dasar, yaitu nanobodi – antibodi dari hewan alpaka – dan bagian dari paku protein virus SASR-CoV-2 yang berfungsi mengikat reseptor pada sel manusia. Dalam penelitian itu, Nova menggunakan sekuens asli dari paku protein SARS-CoV-2 Wuhan.
Baca juga: Ilmuwan Awasi Varian Covid-19 Baru Selain Delta
Sejauh ini, kandidat vaksin itu ampuh menghadapi berbagai varian virus corona, termasuk varian Afrika Selatan (C.1.2) yang sempat merebak ke berbagai negara.