Share

Mengintip Candi Keramat Tertua yang Berubah saat Penjajahan Belanda

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 18 November 2021 10:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 18 340 2503616 mengintip-candi-keramat-tertua-yang-berubah-saat-penjajahan-belanda-HgZzTIK7xJ.jpg Candi Songgoriti/Okezone

KOTA BATU Candi Songgiriti di Kota Batu merupakan salah satu yang tertua di Jawa Timur. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun di abad 9 Masehi.

(Baca juga: Raja Majapahit Hayam Wuruk Sering Kunjungi Candi Panataran di Blitar, Apa Keistimewaannya?)

Pamong Ahli Budaya Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Andi Muhammad Said menerangkan, bila Candi Songgiriti memang menjadi salah satu candi tertua yang telah ditemukan di Jawa Timur. Bahkan candi ini telah berdiri sebelum Mpu Sindok, raja Mataram.

“Kalau disebut tertua mungkin belum, tetapi dibanding lain - lain ini termasuk tua, (dirikan) abad 9 Masehi, sebelum Mpu Sindok, (peninggalan Kerajaan) Mataram Kuno,” ucap Andi Muhammad Said, saat ditemui Okezone, Kamis, (18/11/2021).

(Baca juga: Sejarah Candi Tikus, Peninggalan Majapahit yang Jadi Sarang Tikus)

Kendati merupakan salah satu candi tertua, mantan Kepala BPCB Jatim ini menyatakan, candi tertua di Jatim dipegang oleh Candi Badut. Tetapi jika dibandingkan dengan temuan struktur candi di Pendem, Kota Batu, yang diekskavasi pada Februari 2020 lalu, yang juga diidentikan peninggalan Mataram, perlu adanya kajian keilmuan kembali.

“(Kalau sama Situs Pendem) Masih belum dikatakan bisa menggeser, maish butuh penelitian dan pembuktian - pembuktian karena yang tua juga candi badut, itu tua juga Mataram juga,” terang dia.

Namun ia menyayangkan salah satu candi tertua di Jawa Timur ini berubah konstruksi dari aslinya, setelah adanya pemugaran di zaman Belanda di tahun 1921. Maka dari sanalah pihak BPCB melakukan ekskavasi atau penggalian kedua kalinya, setelah ekskavasi pertama di tahun 2014 lalu, untuk mengetahui bentuk asli candi dan ruang lingkungannya.

“Kita mau melihat lingkungannya seperti apa, kan candi ini berada di atas batur, nah batur yang ada di bangun di masa Belanda kita mau lihat bentuk yang sebenarnya,” kata Andi kembali.

Pihaknya pun menemukan beberapa pipa – pipa air yang mengalirkan air panas dari sumber panas yang tak jauh dari lokasi Candi Songgiriti. Pipa – pipa ini yang disinyalir mengubah konstruksi area candi yang diperkirakan masih luas.

“Jelas kita mengetahui bahwa bukti pemugaran dilakukan oleh Belanda, dari struktur dari pondasinya di bawah itu, sudah ada batu - batu yang digunakan ditambahkan, dikasih penanda batu baru, itu sudah ads temuan lain bahwa di bagian yang kita injak ini banyak tandon air dan pipa - pipa berseliweran begitu,” paparnya.

Ia memastikan bila jaringan pipa air panas yang ada di sekitar Candi Songgoriti merupakan bagian dari pemugaran di tahun 1921 oleh pemerintah Belanda. Apalagi tak jauh dari lokasi candi dahulunya berdiri sebuah rumah sakit Belanda.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

“Mungkin (dibangun tahun 1921), bisa juga setelahnya, kan ini banyak eksploitasi diambil airnya, banyak sekali kita temukan tandon - tandon di bawah sana, itu juga struktur drainase itu nggak asli (bawaan candi), itu ada foto lama ada rumah sakit Belanda, mungkin itu bagian – bagiannya,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Tim Ekskavasi Candi Songgoriti Muhammad Ikhwan menerangkan, dari ekskavasi selama delapan hari menemukan adanya struktur batu bata yang diduga berasal dari zaman Belanda. Mengingat batu bata ini tergolong berusia baru dibandingkan dengan usia Candi Songgiriti yang didirikan sekitar abad 9 Masehi.

“Candi Songgoriti itu pernah dipugar oleh Belanda pada 1921. dari sini, kami mengetahui di candi induk terdapat lingkaran-lingkaran timah, itu sebagi penanda dalam pemugaran itu adalah susun ulang. Itu penempatan ulang,” ungkap Ikhwan.

“Selain itu, di bawah dari batur Candi Songgoriti, didapatkan adanya perkuatan yang dilakukan Belanda dengan menggunakan bata. Dengan menggunakan bata baru panjang 25 cm, dan lebar 13cm, tebal lima sentimeter,” tambahnya.

Pondasi batur ini disebut Ikhwan tersusun sembilan lapis, kemudian di bagian bawah dari pondasi bata ini ada plat beton setebal 40 sentimer. “Jadi itu perkuatan yang diberikan Belanda dalam pemugaran yang dilakukan oleh Belanda pada 1921 sampai 1936,” tukasnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini