Ia mengatakan, jika kerusakan akibat dampak gempa dapat diminimalkan dengan penataan ruang maupun struktur bangunan. Namun, berbeda dengan bencana awan panas guguran.
"Tetapi jika awan panas yang dihadapi masyarakat, kecepatannya tinggi ratusan kilometer, bisa terjadi kapan saja, itu tidak bisa menghindar," ucapnya.
Karena itu, ia mengatakan, analisis risiko tidak dapat diterapkan untuk kondisi tersebut.
"Analisis risiko apapun yang akan diterapkan di sana ini tidak bisa. Nah kalau itu yang terjadi maka hanya satu pilihan yang diberikan oleh alam adalah harga banderol yang tidak bisa ditawar, ya ngalah manusianya, toh tuan rumahnya alam. Manakala sang tuan rumah tidak bisa menerima tamu ya kita pulang," tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.