Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tentara Wanita Korut Klaim Dipaksa Aborsi Tanpa Anestesi, Pelecehan Seksual hingga Kelaparan

Susi Susanti , Jurnalis-Jum'at, 24 Desember 2021 |17:02 WIB
Tentara Wanita Korut Klaim Dipaksa Aborsi Tanpa Anestesi, Pelecehan Seksual hingga Kelaparan
Tentara wanita Korea Utara (Foto: Pen News)
A
A
A

PYONGYANG - Seorang tentara wanita Korea Utara (Korut) telah menceritakan bagaimana dia dipaksa untuk melakukan aborsi tanpa anestesi apapun, menghadapi pelecehan seksual dan kelaparan.

Pembelot yang melarikan diri dari negara itu, yang hanya dikenal sebagai Jennifer Kim, juga mengatakan bahwa para pejuang wanita di ketentaraan juga terpaksa menggunakan “kaus kaki” yang basah sebagai pembalut.

Berbicara tentang perlakuannya di negara komunis yang tertutup itu kepada Komite Hak Asasi Manusia di Korea Utara (HRNK), dia juga mengklaim bahwa dia dipaksa untuk mencelupkan tangannya ke dalam air dingin yang membuat tangannya membeku dan disuruh bergantung di batang besi sehingga kulit tangannya robek sebagai bentuk hukuman.

“Jika saya menolak permintaannya, saya tidak dapat menjadi anggota Partai Buruh Korea,” kenangnya. Dia menceritakan kala itu, seorang penasihat politik diduga melakukan pelecehan seksual ketika dia dipanggil ke kantornya pada usia 23 tahun.

Baca juga: Studi Terbaru: 200 Tentara Wanita Alami Trauma Akibat Pelecehan Seksual 

“Jika saya kembali ke masyarakat tanpa bisa bergabung dengan partai, saya dianggap sebagai anak bermasalah dan saya akan distigmatisasi seumur hidup,” lanjutnya.

“Itu berarti Anda tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan itu akan menjadi masalah ketika Anda mencoba untuk menikah - apa yang bisa saya pilih?,” terangnya.

Baca juga: Tentara Wanita Akhirnya Boleh Pakai Celana Dalam Khusus Perempuan 

“Pada akhirnya, saya diserang secara seksual olehnya,” ujarnya.

Dia juga mengklaim bahwa dia dipaksa untuk bertahan hidup hanya dengan tiga hingga empat sendok jagung per hari, dan sangat kekurangan makanan sehingga siklus menstruasinya berubah menjadi menstruasi hanya sekali setiap empat hingga enam bulan.

Namun, dia masih aktif secara seksual dan harus memberi tahu penasihat politik bahwa dia hamil.

Beberapa hari kemudian dia diperintahkan untuk pergi ke kantor medis militer suatu malam.

“Seorang ahli bedah militer sudah menunggu saya,” kenangnya.

“Dia melakukan aborsi pada saya tanpa anestesi - itu masih menghantui saya hingga hari ini,” ujarnya.

“Karena pengalaman itu, saya tidak hanya masih berjuang secara mental, tetapi saya juga belum bisa punya anak,” ungkapnya.

“Jadi bahkan sekarang, sulit bagi saya untuk memiliki pernikahan yang baik,” ujarnya.

“Rasa malu yang saya rasakan saat itu masih menghantui saya dan akan terus begitu,” terangnya.

Direktur Eksekutif HRNK Greg Scarlatoiu, mengecam kepemimpinan Korea Utara, mengklaim bahwa perlakuan buruk terhadap perempuan sudah terjadi sampai ke puncak pimpinan Korut.

“Pelecehan yang diderita putri-putri bangsa berseragam di tangan antek-antek rezim mencerminkan penyimpangan dan korupsi partai yang tertanam dalam dan tak tersembuhkan,” terangnya.

"Itu ada di seluruh kepemimpinan puncak, sampai ke puncak rantai komando,” lanjutnya.

Diketahui, semua wanita di Korut menghadapi tugas wajib militer sejak mereka lulus sekolah hingga mereka berusia 23 tahun. Layanan tentara paksa untuk wanita telah disahkan menjadi undang-undang pada 2015.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement