Share

Keluarga Pilar Utama Memilah dan Mengolah Sampah

Agustina Wulandari , Okezone · Jum'at 31 Desember 2021 19:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 31 1 2525742 keluarga-pilar-utama-memilah-dan-mengolah-sampah-VGu0NmKyDK.jpg Keluarga jadi pilar utama memilah dan mengolah sampah. (Foto: Dok.Kementerian PUPR)

Keluarga adalah unit terkecil di masyarakat yang memiliki kewajiban untuk mengajarkan pada anggotanya untuk menjaga lingkungan sekitar tempat tinggal. Salah satu contoh mudahnya adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan tidak buang sampah sembarangan.

Sebagian orang yang membuang sampah tidak pada tempatnya, berawal dari keluarga yang tidak memberikan perhatian dan contoh kepada anggota keluarga. Perilaku ini dalam praktiknya memang seringkali diremehkan. Namun ketika banyak buang sampah sembarangan, tanpa disadari hal ini menjadi masalah yang serius bagi lingkungan.

Nah, apalagi dalam kurun waktu lebih dari satu tahun terakhir ini berlangsung pandemi Covid-19, mengharuskan keluarga lebih banyak beraktivitas di rumah. Hal ini tentu membawa konsekuensi meningkatnya sampah domestik dari rumah.

Baca Juga: Mahasiswa ITS KKN Buat Mesin Balistik Pencacah Sampah

Setiap hari dari 175.000 ton sampah yang dihasilkan di Indonesia, 60 persennya merupakan sampah rumah tangga. Karena itulah, pemilahan sampah dari rumah oleh keluarga sebagai bentuk penanganan dari hilir ke hulu dapat meringankan pengelolaan sampah .

Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) merupakan sistem pengelolaan dan teknologi pengolahan sampah, yang merupakan solusi dalam mengatasi masalah dan dampak yang ditimbulkannya. Melalui TPS3R tidak hanya masalah pencemaran lingkungan yang dapat dikurangi, namun juga dapat menghasilkan produk-produk yang bernilai ekonomis dari sampah yang diolah.

 

Foto: Kementerian PUPR

Teknologi TPS3R adalah sistem pengolahan sampah dengan inovasi teknologi pencacah sampah dan pengayak mesin kompos yang lebih efektif dan efisien. Hasil pengolahan sampah berupa kompos bisa digunakan untuk pupuk tanaman hias dan herbal yang ditanam di lahan sekitar Tempat Pengelolaan Sampah (TPS).

Pada Tahun Anggaran 2021, Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya mengalokasikan anggaran sebesar Rp97,2 miliar untuk menyalurkan program TPS3R yang tersebar di 162 lokasi. Kegiatan padat karya tunai ini diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 2.430 orang.

Tercatat sebagaimana terekam dalam sistem E-Monitoring Kementerian PUPR hingga 27 Desember 2021, capaian pekerjaan fisik padat karya TPS3R yang tersebar di 26 Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW), Ditjen Cipta Karya sebesar 100 ℅ dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 2.933 orang atau setara dengan 189,802 Hari Orang kerja (HOK).

Pekerjaan fisik Program TPS3R yang telah selesai 100% salah satunya di Provinsi Jawa Tengah tersebar di 14 kabupaten/kota, yakni Kabupaten Boyolali, Cilacap, Kebumen, Magelang, Purworejo, Sragen, Surakarta, Pati Temanggung, Wonosobo, Blora, Grobogan, Pati, Semarang, dan Kota Semarang.

Pada beberapa lokasi penerima bantuan Program TPS3R, sampah yang telah dipilah dan diolah juga dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar atau bahan campuran aspal. Misalnya untuk sampah organik berupa ranting dan dedaunan, dapat diolah menjadi bahan bakar berbentuk pelet/briket, sementara untuk sampah non-organik berupa kantong plastik dicacah untuk menjadi bahan campuran aspal plastik.

Penyelenggaraan TPS3R merupakan pola pendekatan pengelolaan persampahan pada skala komunal atau kawasan, dengan melibatkan peran aktif pemerintah dan masyarakat, melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, termasuk untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan/atau yang tinggal di permukiman yang padat dan kumuh.

Secara keseluruhan, pengelolaan sampah rumah tangga telah diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 97 tahun 2017 tentang Pengurangan dan Penanganan Sampah Rumah Tangga, dengan target pengurangan 30 persen dan penanganan 70 persen.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan Program PKT Kementerian PUPR dilaksanakan melalui pembangunan infrastruktur yang melibatkan masyarakat/warga setempat sebagai pelaku pembangunan, khususnya infrastruktur berskala kecil atau pekerjaan sederhana yang tidak membutuhkan teknologi.

"Adanya Program TPS3R, masyarakat diajak untuk mengubah perilakunya agar membuang sampah pada tempatnya dan melakukan pengelolaan 3R terhadap sampah yang mereka hasilkan,” kata Menteri Basuki.

Pembangunan TPS3R memberikan manfaat yang dapat diukur secara secara tangible dan itangible dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat diharapkan tidak hanya mengurangi kuantitas sampah dari sumbernya dengan menerapkan prinsip reduce, reuse dan recycle, tetapi juga memberikan pembelajaran serta praktik langsung kepada masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Di samping itu, TPS3R merupakan Circular Economy dimana terdapat penyerapan tenaga kerja baik selama konstruksi sampai pascakonstruksi untuk mendukung daya beli masyarakat pada masa pandemi Covid-19.

Dengan Pola Community Development tidak hanya menjawab persoalan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah, namun juga dapat menghasilkan produk-produk yang bernilai ekonomis dari sampah yang diolah tersebut. Karena itulah, keluarga sebagai pilar utama dalam memilah dan berpartispasi aktif dalam pembayaran iuran keluarga adalah menjadi garda terdepan dalam Penanganan Persampahan.

CM

(Wul)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini