Share

Iran Luncurkan Roket Bawa 3 Perangkat Penelitian ke Luar Angkasa

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 31 Desember 2021 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 31 18 2525461 iran-luncurkan-roket-kirim-3-perangkat-penelitian-ke-luar-angkasa-HWCkEb8y3y.jpg Irab luncurkan roket kirim 3 perangkat penelitian ke luar angkasa (Foto: Reuters)

IRAN – Juru bicara kementerian pertahanan Iran Ahmad Hosseini mengatakan Iran menggunakan satelit untuk meluncurkan roket yang membawa tiga perangkat penelitian ke luar angkasa pada Kamis (30/12). Peluncuran ini dilakukan ketika pembicaraan tidak langsung Amerika Serikat (AS) - Iran berlangsung di Austria untuk mencoba menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015.

Dia tidak mengklarifikasi apakah perangkat telah mencapai orbit, tetapi menyarankan peluncuran itu adalah tes menjelang upaya yang akan datang untuk menempatkan satelit ke orbit.

Hosseini mengatakan roket pembawa satelit Simorgh (Phoenix) telah meluncurkan tiga perangkat penelitian pada ketinggian 470 km (290 mil) dan pada kecepatan 7.350 meter per detik.

"Tujuan penelitian yang dimaksudkan dari peluncuran ini tercapai," ujarnya kepada televisi pemerintah.

"Ini dilakukan sebagai peluncuran awal ... Insya Allah, kami akan segera meluncurkan operasional,” lanjutnya.

Baca juga:  Satelit SpaceX Hampir Tabrak Stasiun Luar Angkasa China, Elon Musk Ramai Dihujat Netizen

TV pemerintah menunjukkan rekaman dari apa yang dikatakan sebagai penembakan kendaraan peluncuran dari Pusat Luar Angkasa Imam Khomeini di Iran utara saat fajar.

"Dengan mengembangkan kapasitas kami untuk meluncurkan satelit, dalam waktu dekat satelit dengan berbagai aplikasi... akan ditempatkan ke orbit," ujarnya.

Baca juga: Roket SpaceX Sukses Melesat ke Angkasa, Bawa Misi IXPE

"Muatan yang diluncurkan hari ini adalah subsistem satelit yang diuji dalam kondisi vakum dan ketinggian tinggi serta akselerasi dan kecepatan tinggi dan data dikumpulkan," tambahnya.

Menteri Teknologi Informasi dan Komunikasi Isa Zarepour kepada media pemerintah mengatakan pihaknya berharap pelajaran dari peluncuran penelitian ini akan membuka jalan bagi akses operasional ke teknologi peluncuran sistem satelit.

Peluncuran yang dilaporkan pada Kamis (30/12) ini dilakukan ketika Teheran dan Washington mengadakan pembicaraan tidak langsung di Wina dalam upaya untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir yang dicapai Iran dengan kekuatan dunia dan yang ditinggalkan oleh mantan presiden AS Donald Trump pada 2018.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan Washington mengetahui laporan tentang peluncuran tersebut, menambahkan bahwa peluncuran tersebut berlawanan dengan resolusi DK PBB yang mengabadikan kesepakatan nuklir 2015.

"Amerika Serikat tetap prihatin dengan pengembangan kendaraan peluncuran luar angkasa Iran, yang menimbulkan kekhawatiran proliferasi yang signifikan," ujarnya.

Washington mengatakan prihatin dengan pengembangan kendaraan peluncuran luar angkasa Iran dan seorang diplomat Jerman mengatakan Berlin telah meminta Iran untuk berhenti mengirim roket peluncuran satelit ke luar angkasa, menambahkan bahwa mereka melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

Sementara itu, seorang diplomat Jerman mengatakan Berlin telah mendesak Iran untuk berhenti mengirim roket peluncuran satelit ke luar angkasa. Diplomat itu menambahkan bahwa peluncuran tersebut dapat digunakan untuk menguji teknologi rudal balistik yang pada prinsipnya dapat digunakan untuk mengirimkan senjata nuklir.

"Kami meminta Iran untuk menahan diri dari peluncuran rudal balistik lebih lanjut, termasuk peluncur satelit, dan untuk mematuhi kewajibannya di bawah resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan," terangnya.

Diketahui, Iran yang memiliki salah satu program rudal terbesar di Timur Tengah, telah mengalami beberapa kegagalan peluncuran satelit dalam beberapa tahun terakhir karena masalah teknis.

Iran meluncurkan satelit pertamanya Omid (Harapan) pada tahun 2009 dan satelit Rasad (Pengamatan) dikirim ke orbit pada tahun 2011. Teheran mengatakan pada tahun 2012 bahwa mereka telah berhasil menempatkan satelit ketiga buatan dalam negerinya, Navid (Promise), ke orbit.

Pada April 2020, Iran mengatakan berhasil meluncurkan satelit militer pertama negara itu ke orbit, menyusul gagalnya peluncuran berulang kali pada bulan-bulan sebelumnya.

AS memberlakukan sanksi terhadap badan antariksa sipil Iran dan dua organisasi penelitian pada 2019, karena dianggap digunakan untuk memajukan program rudal balistik Teheran.

Namun Teheran membantah kegiatan tersebut adalah kedok untuk pengembangan rudal balistik.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini