Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

AS Pertanyakan Pengerahan Pasukan Rusia Bantu Kerusuhan di Kazakhstan

Susi Susanti , Jurnalis-Sabtu, 08 Januari 2022 |14:15 WIB
AS Pertanyakan Pengerahan Pasukan Rusia Bantu Kerusuhan di Kazakhstan
Rusia kerahkan banutan militer untuk tangani kerusuhan di Kazakhstan (Foto: Kementerian Pertahanan Rusia)
A
A
A

WASHINGTON - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS Antony Blinken telah mempertanyakan keputusan Kazakhstan untuk mencari bantuan militer Rusia untuk menangani gelombang kerusuhan kekerasan yang sedang berlangsung.

Meski puluhan orang tewas dalam protes yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, tetapi Blinken mengatakan AS percaya bahwa pemerintah Kazakhstan dapat menangani protes itu sendiri.

Dia mengatakan kepada wartawan bahwa tidak jelas mengapa pengerahan militer Rusia itu terjadi. Pasukan pertama dari sekitar 2.500 tentara pimpinan Rusia telah tiba di Kazakhstan.

Saat berbicara kepada wartawan pada briefing Departemen Luar Negeri, Blinken memperingatkan bahwa satu pelajaran dari sejarah baru-baru ini adalah bahwa begitu orang Rusia berada di rumah Anda, terkadang sangat sulit untuk membuat mereka pergi.

Baca juga:  Bubarkan Kerusuhan, Presiden Kazakhstan Perintahkan Lepaskan Tembakan Tanpa Peringatan

"Tampaknya bagi saya bahwa otoritas dan pemerintah Kazakh pasti memiliki kapasitas untuk menangani protes dengan tepat untuk melakukannya dengan cara yang menghormati hak-hak pengunjuk rasa sambil menjaga hukum dan ketertiban," terangnya.

"Jadi tidak jelas mengapa mereka merasa perlu bantuan dari luar. Jadi kami mencoba mempelajari lebih lanjut tentang itu,” lanjutnya.

Baca juga: AS Bantah Berperan dalam Kerusuhan Berdarah di Kazakhstan

Beberapa unit penerjun payung Rusia telah tiba di negara itu, dan pada Jumat (7/1) mereka membantu pasukan Kazakhstan merebut kembali bandara dari pengunjuk rasa.

Sementara itu, para pejabat di Moskow telah menekankan bahwa pengerahan pasukannya di bawah Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), aliansi militer Eurasia dari lima bekas republik Soviet dan Rusia, bersifat sementara.

Presiden Kassym-Jomart Tokayev mengajukan permintaan bantuan setelah pengunjuk rasa menyerbu kantor walikota di kota terbesar Kazakhstan, Almaty, dan menyerbu bandara kota.

Pasukan Kazakh telah mengambil tindakan tegas untuk mendapatkan kembali kendali di Almaty. Pada Kamis (6/1), media lokal menerbitkan video yang menunjukkan pasukan pemerintah menembaki pengunjuk rasa.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan 26 "penjahat bersenjata" dan 18 petugas keamanan telah tewas sejauh ini dalam bentrokan dan Presiden Tokayev menyalahkan apa yang disebutnya "teroris" asing atas kerusuhan tersebut.

Diketahui, protes massal pecah pada Minggu (2/1) dipicu ketika biaya bahan bakar gas cair (LPG) - yang digunakan banyak orang di Kazakhstan untuk bahan bakar mobil mereka – naik berlipat ganda.

Pemerintah sejak itu mengatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) akan dikembalikan ke harga awal selama enam bulan. Namun pengumuman itu gagal mengakhiri protes, yang meluas hingga mencakup kerusuhan yang cukup parah.

Tidak ada oposisi politik yang efektif di Kazakhstan dan sebagian besar pemilihan dimenangkan oleh partai yang berkuasa dengan hampir 100% suara. Presiden negara itu sebelumnya, Nursultan Nazarbayev, memerintah negara itu selama 29 tahun dan mempertahankan kekuasaan yang signifikan sejak meninggalkan jabatannya. Tokayev telah mencopotnya sebagai kepala dewan keamanan negara itu.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement