TURKI - Para pengamat mengatakan Turki berperan penting sebagai penegak konvensi internasional yang mengatur masuknya angkatan laut ke Laut Hitam. Turki dianggap dapat menyadari konflik apapun akan membawa tekanan baik dari Moskow maupun mitranya, NATO, terhadap perannya sebagai penjaga gerbang ke Laut Hitam.
Meski ketegangan memuncak atas kemungkinan invasi Rusia ke Ukraina, terlihat semakin banyak kapal perang NATO yang dikerahkan ke Laut Hitam untuk mendukung Ukraina selagi Rusia menumpuk pasukannya di perbatasan dengan Ukraina.
Akses ke Laut Hitam hanya melalui selat Bosporus di Istanbul, yang diatur oleh Konvensi Montreux tahun 1936. Konvensi yang dilaksanakan oleh Turki itu membatasi kapal-kapal angkatan laut dari negara-negara non-Laut Hitam, negara-negara yang tidak berbatasan dengan Laut Hitam, sampai maksimal 10.000 ton per kapal dan hanya untuk 21 hari.
Baca juga: Dua Pesawat Tempur Prancis Dilacak Jet Rusia di Laut Hitam
“Jika terjadi sesuatu yang buruk maka Ukraina harus dilindungi atau dibela. Menurut konvensi Montreux, ada batasan apa yang bisa dibawa oleh NATO sebagai kekuatan angkatan laut,” terang pensiunan Duta Besar Turki yang ahli urusan maritim, Mithat Rende.
Konvensi Montreux memiliki sejarah penting bagi Turki karena memulihkan kedaulatan dan kendali Turki atas terusan bagian dalam yang menghubungkan Laut Hitam dengan laut lepas.
Baca juga: Militer Rusia Lepaskan Tembakan Peringatan ke Kapal Perusak Inggris di Laut Hitam
Namun sebagian pengamat memperingatkan, peran Turki sebagai penjaga gerbang Laut Hitam membuatnya dalam posisi sulit dengan mitra NATO-nya dalam situasi tegang.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.