Share

Usai Bersuara dan Protes, Wanita Afghanistan Ini Diklaim Diculik Taliban

Susi Susanti, Okezone · Sabtu 22 Januari 2022 13:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 22 18 2536143 usai-bersuara-dan-protes-wanita-afghanistan-ini-diklaim-diculik-taliban-E5bhTTBoQc.jpg Wanita ini diklaim diculik Taliban usai bersuara dan protes (Foto: aamaj news)

KABUL - Taliban dilaporkan menculik beberapa wanita yang kerap berjuang dan bersuara di Afghanistan.

Diketahui, setelah 20 tahun perjuangan dengan kekerasan, dan hilangnya puluhan ribu nyawa warga sipil, Taliban berhasil mengambil alih kekuasaan di sini dengan menggunakan kekuatan brutal.

Meski begitu, perempuan Afghanistan menolak untuk diintimidasi. Tamana Zaryabi Paryani adalah salah satunya. Dibutuhkan keberanian untuk melawan orang-orang bersenjata yang ingin mengambil hampir semua yang telah Anda capai dalam hidup.

Akhir pekan lalu, dia bergabung dengan puluhan orang lainnya untuk menuntut hak atas pekerjaan dan hak atas pendidikan. Para pengunjuk rasa disemprot merica oleh pejuang Taliban, dan beberapa mengatakan mereka telah disetrum oleh sengatan listrik.

Setelah membuat suara mereka didengar, mereka kembali ke rumah. Beberapa dari mereka takut pulang ke rumah karena akan diikuti.

 Baca juga: Taliban Janji Perempuan Afghanistan Boleh Sekolah Lagi

Pada Rabu (19/1) malam, pukul 20:00 waktu setempat, pria bersenjata memasuki blok apartemen Tamana Paryani di lingkungan Parwan 2 Kabul. Dia sendirian di rumah dengan saudara perempuannya. Orang-orang itu mulai menendang pintu.

"Tolong bantu, Taliban telah datang ke rumah saya, saudara perempuan saya ada di rumah," pinta Paryani dalam video yang diposting ke media sosial.

Baca juga:  Terbitkan Pedoman Baru, Taliban Larang Perempuan Bepergian Jauh Tanpa Pendamping Pria

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

"Kami tidak ingin kau di sini sekarang," teriaknya.

"Kembalilah besok, kita bisa bicara besok," pintanya.

"Kamu tidak bisa melihat gadis-gadis ini di malam hari. Tolong, Taliban telah datang ke rumah saya," katanya sebelum video berakhir.

Paryani dilaporkan telah hilang selama dua hari sejak kejadian terakhir itu.

Tetangga mengatakan Paryani telah dibawa pergi bersama dua saudara perempuannya, dan tidak ada seorang pun yang pernah ke apartemen sejak itu. Mereka hanya akan mengatakan bahwa " kelompok bersenjata" telah membawa wanita itu.

Para pengunjuk rasa wanita lainnya menjadi sasaran malam itu. Seorang lagi, Parawana Ibrahimkhel, juga hilang. Namun, Taliban membantah menculik wanita itu.

Salah satu teman Paryani menceritakan kisah yang berbeda. "Saya mengatakan kepadanya sesegera mungkin, tinggalkan rumah Anda, anggap ini lebih serius Anda dalam bahaya ... Ketika saya sampai di rumah, seorang teman, juga seorang pengunjuk rasa - saya tidak ingin menyebutkan namanya - dia menangis karena Tamana telah ditangkap oleh Taliban dan dia telah merilis video di media social,” ungkapnya dari lokasi yang aman, dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Tidak diketahui apakah pihak berwenang sedang mencari wanita tersebut.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara dengan BBC pada Kamis (21/1), Suhail Shaheen, yang berharap menjadi duta besar Taliban untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membatan hal itu.

"Jika [Taliban] telah menahan mereka, mereka akan mengatakan bahwa mereka telah menahan mereka, dan jika itu adalah tuduhan mereka. akan pergi ke pengadilan dan mereka akan membela diri. Ini adalah sesuatu yang legal, tetapi jika mereka tidak ditahan, dan mereka membuat adegan palsu dan syuting film untuk mencari suaka di luar negeri,” terangnya.

Sebagian besar dunia menolak untuk mengakui Taliban sebagai penguasa sah Afghanistan. Lebih dari separuh populasi kelaparan karena sanksi yang diberlakukan Barat.

Di bawah pemerintahan Taliban, Afghanistan telah menjadi satu-satunya negara di dunia yang secara terbuka membatasi pendidikan berdasarkan gender, yang merupakan titik utama dalam upaya Taliban untuk mendapatkan legitimasi, dan dalam pencabutan sanksi. Protes reguler oleh perempuan yang menyoroti masalah ini merupakan sumber rasa malu bagi kelompok tersebut.

Terlepas dari siapa yang menculik Tamara Paryani, saudara perempuannya dan teman-temannya, Taliban secara kolektif menghukum perempuan Afghanistan.

Selama 20 tahun terakhir, wanita di sini telah berjuang menghentikan prasangka budaya dan keluarga untuk hidup lebih bebas, kemajuan puluhan tahun yang tampaknya ingin dihancurkan Taliban.

Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada 15 Agustus, para wanita mengeluh bahwa mereka sekarang menjadi tahanan di rumah mereka sendiri.

Bahkan, mereka tidak merasa aman di rumah sendiri. Padahal merupakan pelanggaran budaya Afghanistan untuk memasuki rumah yang hanya berisi wanita.

Tetapi setelah memecat petugas polisi wanita, Taliban tidak memiliki personel wanita yang tersedia untuk menanyai wanita.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini