Share

224 Spesies Baru Ditemukan, Termasuk Ular Warna-Warni dan Kadal Air Bertanduk Setan

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 28 Januari 2022 03:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 27 18 2538807 224-spesies-baru-ditemukan-termasuk-ular-warna-warni-dan-kadal-air-bertanduk-setan-4I9SmGWV89.jpg WWF temukan 224 spesies baru (Foto: WWF/AP)

BANGKOK Kelompok konservasi World Wildlife Fund (WWF) menyatakan pihaknya menemukan 224 spesies baru di wilayah Greater Mekong pada 2020 meskipun ada "ancaman hebat" hilangnya habitat asli di sana. Penemuan ini seperti kadal air bertanduk setan, bambu tahan kekeringan, dan monyet yang dinamai sesuai nama gunung berapi.

Penemuan yang tercantum dalam laporan WWF itu juga termasuk tokek 'Rock Gecko' jenis baru yang ditemukan di Thailand, spesies pohon murbei di Vietnam, dan katak berkepala besar di Vietnam dan Kamboja yang sudah terancam deforestasi.

Beberapa makhluk yang lebih aneh termasuk Lutung Popa, monyet dengan kaki panjang dan ekor panjang, dinamai sesuai nama gunung berapi Gunung Popa yang sudah punah, rumah bagi sekitar 100 monyet yang menjadi populasi spesies terbesar.

Ada ikan gua yang ditemukan di Myanmar, berwarna kuning-putih pucat, yang sangat tidak biasa dan berbeda dari ikan lain dalam keluarga yang sama sehingga para ilmuwan memutuskan untuk membuat genus baru untuknya. Lalu ada ular warna-warni, sisiknya bergeser melalui warna biru dan hijau dalam cahaya.

Baca juga: Spesies Baru Reptil Terbang Mirip Naga Ditemukan, Usianya 100 Juta Tahun

WWF mengatakan 224 penemuan ini menekankan keanekaragaman hayati yang kaya di wilayah Mekong, yang meliputi Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam.

Tapi itu juga menyoroti ancaman yang dihadapi satwa liar di habitat alami yang terfragmentasi dan terdegradasi. Para ahli dan ilmuwan mendesak kerja sama internasional yang lebih besar untuk melestarikan apa yang tersisa.

Baca juga: Spesies Tanaman Baru Ditemukan Hidup di Lapisan Es Antartika 

“Penemuan di Mekong"menunjukkan bahwa wilayah tersebut masih menjadi garis depan untuk eksplorasi ilmiah dan hotspot keanekaragaman spesies," kata laporan itu.

"Namun, penemuan-penemuan ini juga merupakan pengingat akan kerugian kita jika pemukiman manusia dan kegiatan pembangunan di kawasan itu terus merusak lingkungan alam,” lanjutnya.

"Banyak spesies punah bahkan sebelum mereka ditemukan, didorong oleh perusakan habitat, penyakit yang disebarkan oleh aktivitas manusia, predasi dan persaingan yang dibawa oleh spesies invasif, dan dampak buruk dari perdagangan satwa liar ilegal dan tidak berkelanjutan,” ungkap laporan itu.

Daerah ini adalah rumah bagi beberapa spesies yang paling terancam punah di dunia. Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun lalu mengatakan perdagangan satwa liar di Asia Tenggara cenderung menurun akibat pembatasan virus corona, yang membuat negara-negara menutup perbatasan dan memperketat pengawasan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini