Para ahli dari Vector Russian State Research Center of Virology and Biotechnology mengeluarkan pernyataan pada Kamis (27/1/2022) setelah diberi pengarahan tentang NeoCov, sebagai tanggapan atas publikasi tersebut.
"Para ahli dari pusat penelitian Vector mengetahui data yang diperoleh peneliti China mengenai virus corona NeoCov. Saat ini, ini bukan tentang kemunculan virus corona baru yang mampu menyebar secara aktif di antara manusia," ungkap mereka.
Mereka menambahkan tim China telah menguraikan potensi risiko yang memerlukan studi lebih lanjut. Pandemi COVID-19 yang melanda dunia bermula dari Wuhan, China, pada Desember 2019.
Belum ada bukti pasti bagaimana pandemi itu muncul. Saat ini, ada dua versi tentang masalah ini. Yang pertama menunjukkan bahwa COVID-19 ditularkan ke manusia dari kelelawar melalui hewan perantara. Yang kedua menjelaskan wabah dengan kebocoran dari laboratorium.
Pada musim semi 2021, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan laporan lengkapnya tentang asal virus corona, yang menyatakan teori kebocoran laboratorium tidak mungkin terjadi.
Sementara pada 29 Oktober 2021, intelijen AS merilis laporan yang tidak diklasifikasikan tentang penyelidikannya terkait asal-usul virus corona yang menemukan virus tersebut belum dikembangkan sebagai senjata biologis.
Badan-badan intelijen top Amerika tetap "terbagi atas asal yang paling mungkin." Namun, laporan itu juga menuduh Beijing diduga menghalangi penyelidikan global dan menolak berbagi informasi.
Sebagai tanggapan, Kementerian Luar Negeri China mengecam laporan “yang disebut ringkasan penilaian yang tidak diklasifikasikan tentang asal-usul COVID-19” sebagai sesuatu yang politis dan salah, tanpa dasar atau kredibilitas ilmiah.
(Angkasa Yudhistira)