Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Trembesi, Hikayat Abadi Djarum dan Doni

Tim Okezone , Jurnalis-Minggu, 06 Maret 2022 |08:53 WIB
Trembesi, Hikayat Abadi Djarum dan Doni
Murodo Wali dari PT Djarum sebagai LO dari kunjungan PPAD di Semarang Kudus (Foto: istimewa)
A
A
A

Di layar, tampak Victor mengikuti paparan Doni secara virtual dengan cermat. Termasuk ketika Doni meminta maaf kepada Victor karena belum berhasil mendapatkan trembesi kuning yang diminta. “Maaf pak Victor, saya belum menemukan trembesi kuning yang bapak minta. Saya sudah dapat bijinya, tapi setelah disemai, kembali tumbuhnya hijau. Jadi ada kemungkinan trembesi kuning adalah efek gangguan genetic, pak…. Tapi masih kami pelajari,” kata Doni.

Doni melanjutkan, “Saya masih mengerahkan anak-anak ke berbagai daerah untuk mendapatkan trembesi kuning,” katanya. Di layar, tampak Victor berterima kasih dengan salam namaste sambil tertawa senang.

Kepada Victor di layar, serta Yan Haryadi yang duduk di sebelah, Doni menyampaikan apresiasinya terhadap Djarum. Djarum tidak saja dikenal sebagai produsen rokok, tetapi mulai dikenal karena business development yang dikembangkan. Ditambah aneka program CSR yang terbukti membantu masyarakat dan negara, baik di bidang lingkungan, pendidikan, UKM, olahraga, seni-budaya, dan lain-lain.

“Pertanyaan saya, apakah bersedia Djarum merambah ke sektor rempah-rempah,” tanya Doni kepada Victor.

Sebagai ilustrasi, Doni mengilas waktu ke kurun abad ke-17 da, 18, saat rempah-rempah menjadi komoditi perdagangan dunia. “Suatu hari saat saya ke Singapura, saya masuk ke salah tempat, lupa namanya. Nah di salah satu koridor ada konten tentang proses sejarah rempah,” katanya.

Terkuak pula kisah VOC yang mengangkut rempah-rempah dari Nusantara, kemudian melintasi Singapura, yang abad ke-13 masih bernama Temasek. Temasek adalah bahasa Jawa Kuno yang artinya Kota Laut. Kata Temasek sendiri merupakan serapan bahasa Melayu. Tasek artinya Danau.

Nah, di Sentosa Island, terdapat gambar-gambar kapal VOC tengah berlayar, serta penggambaran rute dari Indonesia bagian timur, Maluku, Maluku Utara, Jawa, Sulawesi, dan Sumatera. Semua kapal VOC singgah di Pelabuhan Singapura, sebelum melanjutkan pelayaran ke Eropa.

Lalu tahun 2015 Doni menjadi Pangdam XVI/Pattimura di Ambon. Di sana ia mendapatkan sejumlah data, serta melihat secara fisik, ada lebih dari 70 benteng. Benteng-benteng itu ada yang peninggalan Belanda, Inggris, Perancis, bahkan Spanyol.

“Dan hari ini bisa di-search di Google, VOC menjadi perusahaan terkaya di dunia. Asetnya mencapai 7,9 triliun dollar Amerika,” ujar Doni. Jika dirupiahkan, asset VOC lebih dari 118 kuadriliun rupiah. Satu kuadraliun sama dengan 1.000 triliun. “Bayangkan, APBN negara kita kita saja hanya sekitar 2.700 triliun rupiah,” kata Doni.

Makin lengkap saja informasi yang diterima Doni, saat Mei 2019 mengunjungi Belanda. Di Amsterdam. Ia menemukan bangunan klasik dengan tulisan “Specerijenmagazijn Indie’s Velvaren”, yang artinya “Gudang rempah, harta kekayaan melimpah dari bumi Indonesia”.

“Kalimat pengakuan oleh bangsa Belanda, bahwa mereka menjadi kuat dan kaya raya karena rempah-rempah Indonesia,” ujar Doni dan menambahkan, “yang saya pikir, bagaimana pengusaha nasional yang sudah kuat secara finansial, mengangkat kembali rempah-rempah menjadi komoditi unggulan Indonesia.

Terlebih, Presiden menaruh perhatian yang sangat besar terhadap rempah-rempah. Menteri Pertanian sudah mendapat tugas untuk itu. Terkait program itu, Doni berharap Djarum bisa memulainya dengan mengadakan program pelatihan terhadap kaum milenial. Merekalah yang nanti menjadi ujung tombak untuk penetrasi ke pasar global.

Rempah-rempah juga berpotensi menjadi kekuatan di bidang kesehatan bangsa Indonesia. Rempah terbukti mampu meningkatkan imunitas tubuh manusia. “Banyak tanaman obat yang kita miliki. Jadi seyogianya kita tidak terlalu tertantung pada obat-obat impor,” ujar Doni.

Doni menyebut, minyak atsiri jika dikemas menjadi berbagai varian produk, memiliki potensi besar untuk masuk pasar global, karena sangat khas. Termasuk bisa digunakan sebagai bahan dasar parfum. “Sulingan kulit kayu masohi bahkan digunakan untuk bahan baku parfum Hermes yang sangat terkenal dan mahal itu,” tambah Doni.

Perlu menjadi perhatian, bangsa kita belum menggerakkan potensi sumber daya alam menjadi kekuatan ekonomi. “Perlu ada kekuatan besar yang bisa menggerakkan proses pengolahan rempah menjadi barang jadi,” katanya.

Rempah tidak saja memiliki nilai ekonomi, tetapi juga vegetasi. Ia bisa mengatasi problem ekosistem. Saat ini banyak lahan di ketinggian tertentu, dibabat pepohonannya diganti tanaman semusing seperti kentang, jagung, wortel, dan lain sebagainya. “Yang terjadi kemudian, saat hujan besar dalam intensitas yang lama, terjadi longsor dan mendatangkan bencana bagi masyarakat,” katanya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement