Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Dapatkah Rusia Andalkan China Usai Dihantam Rangkaian Sanksi Akibat Invasi Ukraina?

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 09 Maret 2022 |07:13 WIB
Dapatkah Rusia Andalkan China Usai Dihantam Rangkaian Sanksi Akibat Invasi Ukraina?
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping (Foto: Getty Images/BBC Indonesia)
A
A
A

Komitmen tersebut diwujudkan oleh pemerintah China baru-baru ini. Badan Bea Cukai China mengumumkan pencabutan semua hambatan terhadap impor gandum dan barley dari Rusia pada hari serangan ke Ukraina dimulai. 

Padahal, sebelumnya China menerapkan hambatan impor gandum dari beberapa daerah di Rusia karena kekhawatiran membawa penyakit. Tahun lalu, China adalah pembeli gandum terbesar keempat serta pembeli barley terbesar di dunia. Adapun Rusia adalah salah satu produsen utama kedua komoditas itu.

Selain membeli produk-produk pertanian, China saat ini adalah pasar terbesar bagi ekspor energi dari Rusia, seperti minyak, gas, dan batu bara. Bahkan, China adalah pembeli terbesar batu bara Rusia. Sepekan sebelum invasi ke Ukraina, China dan Rusia menyepakati perjanjian batu bara yang baru senilai lebih dari USD20 miliar.

Sejauh ini, Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar bagi Rusia. Pada 2021, nilai total perdagangan antara Rusia dan Uni Eropa hampir dua kali lipat lebih besar dari nilai perdagangan antara China dan Rusia. Hal itu bisa berubah seiring dengan invasi ke Ukraina, menurut ekonom perdagangan, Dr Rebecca Harding.

"Tidak terhindarkan bahwa perdagangan UE-Rusia surut akibat rangkaian sanksi. Krisis saat ini menajamkan fokus di dalam UE mengenai perlunya mendiversifikasi suplai," ujarnya.

Nilai perdagangan Rusia dan AS jauh lebih kecil. 

Dapatkah China membeli lebih banyak komoditas energi dari Rusia?

Ekonomi Rusia sangat bertumpu pada ekspor minyak dan gas. Namun, rangkaian sanksi terhadap Rusia sejauh ini belum menyasar ke sektor tersebut.

Tahun lalu, Rusia adalah pemasok minyak terbesar kedua dan pemasok gas terbesar ketiga bagi China. Nilai ekspor kedua komoditas itu masing-masing mencapai USD41,1 miliar dan USD4,3 miliar, menurut berbagai laporan media.

Kesepakatan baru dengan China yang baru-baru diumumkan Presiden Vladimir Putin diperkirakan bernilai USD117,5 miliar.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement