Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengenal Sultanah Shafiatuddin: Kembalikan Kejayaan Kesultanan Aceh hingga Seorang Penulis

Tim Okezone , Jurnalis-Jum'at, 11 Maret 2022 |05:30 WIB
Mengenal Sultanah Shafiatuddin: Kembalikan Kejayaan Kesultanan Aceh hingga Seorang Penulis
Sultanah Shafiatuddin (Foto: istimewa)
A
A
A

JAKARTA - Masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam tak terlepas dari peran hebat seorang perempuan. Salah satunya saat kerajaan yang berada di ujung Sumatera itu dinakhodai perempuan pertama di Kerajaan Aceh Darussalam, Sultanah Shafiatuddin.

Dia merupakan putri dari Sultan Iskandar Muda. Sultanah Shafiatuddin memimpin Kerajaan Aceh Darussalam setelah suaminya, Sultan Iskandar Tsani mangkat.

Iskandar Tsani adalah putra Sultan Ahmad Syah, Sultan Pahang (kini wilayah Malaysia) yang menikah dengan Shafiatuddin Syah setelah Sultan Iskandar Muda menaklukkan Pahang pada 1617, dikutip dari NUOnline.

Era Sultan Iskandar Tsani tidak lama, yaitu 1636-1641 yang juga merupakan tahun kematiannya. Situasi politik yang mendesak saat itu kemudian menempatkan Shafiatuddin sebagai pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam berikutnya dengan gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah.

Kepemimpinan Sultanah Shafiatuddin juga tak lepas dari kontroversi lantaran kebiasaannya pemimpin dari sebuah kerajaan harus seorang lelaki.

Baca juga: Nisan Peninggalan Kerajaan Aceh di Lokasi Proyek Tol Harus Diselamatkan

Debat soal boleh tidaknya pemimpin perempuan dalam pemerintahan Islam ternyata sudah terjadi ketika Ratu Shafiatuddin diajukan untuk memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Ada sejumlah kalangan yang tidak setuju atas naik tahtanya Ratu Safiatuddin.

Baca juga: Geger! Puluhan Batu Nisan Makam Kesultanan Aceh Ditemukan di Lokasi Proyek Tol

Terjadilah beberapa kali aksi pemberontakan juga upaya pengkhianatan untuk mendongkel kepemimpinan sang ratu. Kondisi saat itu bertambah rumit karena harus menghadapi ancaman eksternal seiring menguatnya pengaruh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) setelah berhasil merebut Malaka dari Portugis pada awal tahun 1641.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement