Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Deretan Perempuan Perkasa yang Ditakuti dan Menjadi Panglima Perang

Tim Litbang MPI , Jurnalis-Minggu, 13 Maret 2022 |06:03 WIB
Deretan Perempuan Perkasa yang Ditakuti dan Menjadi Panglima Perang
ilustrasi deretan perempuan perkasa/ist
A
A
A

BEBERAPA waktu lalu, kita memperingati Hari Perempuan Internasional. Perempuan, dengan segala kemampuannya, telah membuktikan kepiawaiannya memangku beragam peran dan berkontribusi dalam kemajuan bangsa.

(Baca juga: Hari Perempuan Internasional, Jokowi: Mereka Berjuang di Berbagai Palagan)

Faktanya, sejak zaman dahulu, kaum perempuan ikut turun ke medan perang bahkan menjadi panglima, membawa senjata untuk memperjuangkan kepercayaan dan tanah yang mereka tinggali. Berikut ini adalah daftar perempuan yang berada di garis terdepan dalam peperangan di zaman dahulu, dilansir dari berbagai sumber.

•Ummu Umarah

Nusaibah binti Ka’ab al-Anshariyah atau Ummu Umarah adalah seorang pejuang di zaman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dia berasal dari Bani Mazim dan merupakan sahabat Rasulullah yang berjihad di jalan Allah.

Pada perang di Bukit Uhud, 7 Syawal 3 H/22 Maret 625 M, sekitar 700 pasukan tentara Muslim di bawah komando Rasulullah bertarung melawan 3.000 tentara Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Pasukan Muslim hampir mendapatkan kemenangan, namun semuanya berbalik ketika mereka mengabaikan pasukan Rasulullah. Tentara musuh menggunakan kesempatan tersebut untuk membunuh Rasulullah.

Lalu secara tidak terduga, Ummu Umarah datang seperti pahlawan. Diacungkannya pedang tinggi-tinggi, tanpa ragu melindungi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dari pasukan musuh yang coba mendekat. Padahal, Ummu Umarah bukan seorang prajurit, melainkan petugas medis dan pembawa minuman. Meskipun tenaganya nyaris tidak sebanding dengan para prajurit dan mendapatkan luka-luka di tubuhnya, keberanian Ummu Umarah berhasil memicu semangat pasukan Muslim bangkit kembali.

•Joan of Arc

Lahir pada 1412, Jeanne d’Arc (bahasa Inggris: Joan of Arc) adalah putri seorang petani, Jacques d’Arc dari desa Domrémy, di timur laut Prancis. Dilansir dari History.com, sejak kecil Joan tidak diajari membaca atau menulis, namun sang ibu menanamkan ketaatan ajaran Katolik. Di usia yang ke-13 tahun, pertama kalinya Joan mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa dia telah diutus Tuhan untuk memimpin Prancis menuju kemenangan.

Berdasarkan ramalan yang didapatkannya, Joan pun pergi ke Vaucouleurs, menemui Putra Mahkota Charles. Joan berjanji kepada Charles bahwa dia akan diangkat menjadi seorang raja, asalkan Charles mengizinkannya untuk memimpin pasukan di Pertempuran Orleans. Joan berhasil memenangkan perperangan tersebut atas Inggris. Setelah merealisasikan janjinya untuk pengangkatan Raja Charles VII, Joan of Arc ditangkap oleh pasukan Anglo-Burgundia. Dia diadili karena dianggap terkena sihir dan dihukum mati pada 1431. Meskipun begitu, nama Joan of Arc akan selalu dikenal sebagai pahlawan wanita dan simbol abadi persatuan dan nasionalisme Prancis.

•Malahayati

Salah satu perempuan perkasa dari Indonesia, Malahayati. Dia berasal dari Kesultanan Aceh. Sejarawan bahkan internasional mencetuskan Malahayati sebagai laksamana laut perempuan pertama di dunia.

Pada tahun 1599 Malahayati mengomandoi 2.000 orang pasukan Inong Balee, para janda yang ditinggal suaminya gugur di medan perang. Dalam perang tersebut, Malahayati mampu mengalahkan pasukan Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman. Malahayati menikam penjajah dengan rencong hingga tewas di atas geladak kapal.

Namun, perjuangannya berakhir di tahun 1606. Laksamana Malahayati tewas dalam pertempuran melawan Portugis. Jasadnya pun kebumikan di Desa Lamreh, Kabupaten Aceh Besar. Pada 6 November 2017, Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, Presiden Jokowi meresmikan Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional.

•Tomoe Gozen

Tomoe Gozen didaulat sebagai prajurit samurai wanita (onna-bugeisha) pada akhir abad ke-12. Saking kuatnya, kekuatan Tomoe digadang-gadang menyamai 100 prajurit bersenjata. Dia menikah dengan sesama prajurit samurai bernama Minamoto no Yoshinaka dan bersama-sama bertarung dalam Perang Genpei.

Berdasarkan Dongeng Heike, Tomoe digambarkan sangat cantik, berkulit putih, dengan rambut panjang yang menawan. Setiap kali pertempuran berlangsung, Tomoe maju di garis terdepan, menunggang kuda, menggunakan baju besi, pedang, dan busur yang kuat. Tomoe pernah memotong kepala musuh pada perperangan tahun 1184.

Namun, setelah kekalahan pasukan yang dipimpinnya bersama Toshinaka, Tomoe melarikan diri. Hingga sekarang, tidak ada yang tahu bagaimana nasib sang prajurit samurai wanita.

•Lady Triệu

Lady Triệu adalah prajurit wanita di Vietnam pada abad ke-3. Nama aslinya tidak pernah diketahui, namun orang-orang mengenalnya sebagai Triệu Th Trinh. Disadur dari ThoughtCo, dia lahir di keluarga berpangkat ringgi di Vietnam Utara, namun yatim piatu sejak kecil dan diasuh oleh sang kakak laki-laki.

Ketika Vietnam dikuasai oleh Dinasti Wu dari China, Lady Trieu memutuskan terlibat dalam perperangan dengan mengumpulkan pasukannya sendiri demi memukul mundur China. Meskipun sang kakak telah menyuruh Lady Trieu untuk menikah, dia menolak tunduk pada lelaki manapun sebagai seorang istri.

Pasukan Lady Trieu berhasil mengalahkan China dalam lebih dari tiga puluh pertempuran. Namun, Kaisar Taizu dari Wu yang merasa malu karena kalah dari seorang wanita, akhirnya mengerahkan pasukan ke perbatasan Vietnam, dan membayar warga Vietnam yang mau memberontak. Akibatnya, Lady Trieu berhasil dikalahkan. Ada yang mengatakan dia tewas dalam pertempuran, ada juga sumber berkata dia bunuh diri di sungai.

(Fahmi Firdaus )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement