KITAB-kitab pada masa kerajaan merupakan peninggalan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Peninggalan berupa kitab menyajikan banyak filosofi dan sejarah kerajaan pada zaman dahulu. Pada masa kerajaan di Nusantara, tedapat banyak kitab peninggalan dari kerajaan-kerajaan.
Berikut beberapa kitab pada masa kerajaan tersebut.
1. Kitab Sutasoma
Kitab ini merupakan sebuah syair Jawa kuno yang ditulis oleh Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk. Naskah Sutasoma ini dibuat pada tahun 1851 dengan tulisan bahasa Jawa kuno. Isi kitab memaparkan tentang perjalanan seorang pangeran dari Negeri Hastinapura bernama Sutasoma dalam menemukan makna hidup sesungguhnya.
Diceritakan pula ketampanannya sebanding dengan Arjana putra Pandu. Naskah Sutasoma mengandung makna semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dikutip dari pupuh 139 bait 5, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Sebab, tidak ada kebenaran yang mendua.
2. Kitab Negarakertagama
Kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca ini pertama kali ditemukan di tahun 1894 di istana Raja Lombok. Seorang peneliti, J.L.A Brandes berhasil menyelamatkan kitab ini sebelum dibakar bersama seluruh buku di perpustakaan kerajaan. Kitab Negarakertagama menjadi saksi valid pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di Kerajaan Majapahit pada tahun 1365 M.
Kitab ini terdiri dari 98 pupuh. Inti dari keseluruhan isi kitab ini ialah penjelasan mengenai silsilah raja-raja Majapahit, wilayah Kerajaan Majapahit, keadaan kota, upacara Sradha, maupun negara-negara bawahan Majapahit. Negarakertagama memiliki arti Negara dengan tradisi (agama) yang suci.
3. Kitab Pararaton
Kitab ini adalah kitab berbahasa sastra Jawa pertengahan yang diubah dalam bahasa Jawa Kawi. Kitab Pararaton tidak diketahui siapa penulisnya. Kitab ini dikenal juga dengan nama “Pustaka Raja” yang ditulis antara tahun 1481 dan 1600. Naskah kitab ini terdiri dari 1.126 baris yang tertulis dalam 32 halaman folio.
Dalam kitab ini diceritakan riwayat raja-raja Singasari, mulai dari riwayat Raden Wijaya, Ken Arok, hingga raja-raja lain penerusnya. Dijelaskan pula secara detail tentang kehidupan Kerajaan Majapahit, serta perjalanan hidup Ken Arok sampai ia menjadi raja pada tahun 1222. Cerita-cerita mitologis lain juga terdapat dalam kitab ini, membuatnya sering diperdebatkan oleh para sejarawan terkait fakta-fakta sejarah di dalamnya.
Sebagai gambaran, Kitab Pararaton ini bagian awalnya mirip dengan novel fantasi namun bagian belakangnya mirip dengan laporan sejarah. Walaupun begitu, kitab ini masih menjadi sumber penting dalam mengungkap sejarah Kerajaan Singasari.
4. Kidung Ranggalawe
Ranggalawe merupakan seorang pengikut yang memiliki perjuangan besar dalam mendirikan Kerajaan Majapahit. Diceritakan dalam Kidung Ranggalawe, atas jasa-jasanyalah Ranggalawe diangkat sebagai Bupati Tuban yang dulunya ialah pelabuhan utama Jawa Timur. Dalam kitab ini juga dijelaskan pemberontakan Ranggalawe yang terjadi di Sungai Tambak Beras, Jombang.
Raden Wijaya memerintahkan Nambi, Kebo Anabrang, dan Lembu Sora memimpin pasukan Majapahit menuju Tuban untuk menghukum Ranggalawe. Dalam pertarungan di derasnya arus sungai, Ranggalawe mengembuskan napas terakhir akibat dicekik Kebo Anabrang. Lembu Sora, paman Ranggalawe, membalas kematian keponakannya itu dengan menikam Kebo Anabrang.
Jenazah Adipati Ranggalawe dan Kebo Anabrang itu disucikan, dibakar dan abunya dibuang ke laut. Kidung Ranggalawe ini jelas menceritakan pemberontakan tersebut terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, sementara Kitab Pararaton menyebutkan peristiwa itu terjadi pada tahun 1295, sesudah kematian Raden Wijaya.
5. Kitab Calon Arang
Calon Arang merupakan sosok perempuan yang memiliki ilmu hitam yang sakti. Setiap ia marah, selalu berbicara dengan teluh. Pada masa pemerintahan Raja Airlangga, situasi Kediri saat itu mencekam. Siapa pun yang terkena teluh Calon Arang, kematian akan segera menghampirinya.
Digambarkan dalam kitab ini, datangnya kematian itu bahkan hanya dengan gejala panas dingin di pagi hari dan meninggal saat siang. Bahkan yang lebih menyeramkan, usai menggotong jenazah, orang-orang bisa tiba-tiba ambruk dan meninggal. Penduduk setempat menamainya dengan pagebluk, wabah penyakit yang bersumber dari murka Calon Arang.
Calon Arang punya seorang anak perempuan yang cantik jelita, tapi tak ada satu pun lelaki yang berani mendekatinya. Warga desa kemudian menyebutnya perempuan yang tidak laku. Hal ini menimbulkan murka Calon Arang, sehingga ia meneluh seluruh warga desa. Raja Airlangga pun turun tangan dan melakukan ritual pemujaan kepada Sang Hyang Agni dan meminta petunjuk. Selepas ritual pemujaan itu, Raja mendapat petunjuk untuk memerintahkan Mpu Baradah menghabisi Calon Arang.
(Angkasa Yudhistira)