Namun, UYM mengingatkan jika ada perbedaan penetapan 1 Ramadan maka jangan dijadikan masalah. “Karena memang metodenya ada dan semua bisa dipertanggungjawabkan. Tidak sekadar tebak menebak. Insya Allah semuanya demi kebaikan umat,” ucapnya.
“Buat sekedar ilmu, metode hisab yang berkembang ada 3 tata titik kordinat. Ada yang ekliptika, equator dan horison. Al Mansuriah dalam menetapkan 1 hijriah itu berdasar tata titik kordinat ekliptika. Artinya tinggal mengikuti konjungsinya saja,” ucapnya.
“Ini ucapan yang jangan terlalu dijadikan legal standing, jangan dianggap serius dan juga jangan dijadikan nyinyiran. Begini dah di Betawi guru ama santrinya becanda,” tutupnya.
(Qur'anul Hidayat)