JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy menegaskan, Ramadan merupakan momentum untuk saling menghormati. Hal itu mengingat, penduduk Indonesia tidak hanya beragama Islam, tapi terdiri atas beragam agama, budaya, adat, etnis, suku, dan bahasa.
Karena itu, Muhadjir mengajak momen Ramadan ini bagi orang yang tidak berpuasa harus menghormati mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sebaliknya, orang yang sedang berpuasa juga harus menghormati hak mereka yang sedang tidak berpuasa.
“Jadi harus ada toleransi, saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada,” kata Muhadjir dikutip dari laman resmi Kemenko PMK, Senin (4/4/2022).
Selain itu, Muhadjir mengatakan, perbedaan penetapan tanggal 1 Ramadan tak perlu diperdebatkan. Itu karena masing-masing penetapan tersebut memiliki dasar hadis yang sama-sama kuatnya.
Secara garis sederhana, jelas Muhadjir, ada dua jenis pendekatan dalam penetapan 1 Ramadan. Pertama menggunakan perhitungan atau hisab yang artinya berdasarkan perhitungan ilmu falak secara matematik. Kemudian dengan cara Ahlu Ruqyah yaitu melihat hilal atau bulan sabit pertama.
“Puasa kali ini ada dua jenis. Ada yang hari Sabtu sudah mulai puasa dan ada baru dimulai hari Minggu. Itu sama-sama punya dasar sendiri. Tidak usah diributkan,” ungkapnya.
“Jadi selamat berpuasa yang berpuasa dan selamat juga bagi yang tidak berpuasa. Karena sebenarnya semua agama mengajarkan puasa namun waktunya diluar bulan Ramadan. Kita tidak boleh merasa yang paling baik,” tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.