Rudal hipersonik, seperti rudal balistik tradisional yang dapat mengirimkan senjata nuklir, dapat terbang dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara.
Rudal balistik diketahui terbang tinggi ke luar angkasa dalam bentuk busur untuk mencapai target mereka, senjata hipersonik terbang pada lintasan rendah di atmosfer, berpotensi mencapai target lebih cepat.
Yang terpenting, rudal hipersonik dapat bermanuver - seperti rudal jelajah yang jauh lebih lambat, seringkali subsonik - membuatnya lebih sulit untuk dilacak dan dipertahankan.
Menurut US Congressional Research Service (CRS), Rusia dipandang sebagai negara paling maju di bidang ini, sementara China juga secara agresif mengembangkan teknologinya.
CRS sebelumnya mengatakan Prancis, Jerman, Australia, India, dan Jepang telah mengerjakan hipersonik, dan Iran, Israel, dan Korea Selatan telah melakukan penelitian dasar tentang teknologi tersebut.
Seperti diketahui, AS, Inggris dan Australia meluncurkan pakta keamanan penting mereka pada September tahun lalu setelah Canberra membatalkan kesepakatan kapal selam multi-miliar dolar dengan Prancis yang membuat marah Paris.
Pakta tersebut, yang dikenal sebagai AUKUS, diproklamirkan yang memungkinkan tiga sekutu untuk berbagi teknologi canggih.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.