Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

6 Fakta Terkait Klitih, Pelaku di Bawah Umur!

Tim Litbang MPI , Jurnalis-Sabtu, 09 April 2022 |05:05 WIB
6 Fakta Terkait Klitih, Pelaku di Bawah Umur!
Fakta-fakta mengenai klitih. (Ilustrasi)
A
A
A

AKSI klitih marak terjadi di Yogyakarta dan kerap menimbulkan korban jiwa. Dalam bahasa Jawa, klitih merupakan berkegiatan di luar rumah untuk mengisi waktu luang. Maksudnya ialah klitih diartikan sebagai jalan-jalan keliling kota tanpa tujuan yang jelas untuk mengisi waktu luang di malam hari.

Sayangnya, kini makna klitih dilekatkan dengan makna negatif akibat aksi oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Berikut sejumlah fakta-fakta mengenai klitih, sebagaimana dirangkum pada Jumat (8/4/2022) :

1. Jumah kasus klitih

Pada 2020, Polda DIY mencatat terdapat 52 kasus klitih dengan 91 pelaku yang sudah diproses hukum. Sepanjang 2021, jumlahnya meningkat menjadi 58 kasus dengan 102 pelaku telah diproses hukum. Pada 2022 ini kasus klitih masih juga terjadi. Terbaru, aksi klitih di Yogyakarta memakan korban seorang pelajar, pada Kamis (3/4/2022).

Daffa Adzin Albasith, siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, terkena sabetan gir pada bagian wajahnya hingga akhirnya meninggal dunia.

2. Berawal dari geng sekolah

Klitih ini awalnya merujuk pada kekerasan yang dilakukan geng antar sekolah atau kalangan remaja yang ada di Yogyakarta. Sebelumnya diketahui, kasus terkait klitih ini sudah ada sejak 1993. Pada 7 Juli 1993 Kepolisian DIY mulai memetakan keberadaan geng remaja tersebut. Aksi kepolisian itu juga didukung oleh Wali Kota Yogya dengan mengeluarkan instruksi untuk meredam aksi tawuran antarremaja pada tahun 2000an. Dalam instruksi itu tercantum ketentuan jika pelajar Yogyakarta terlibat tawuran, maka akan dikembalikan ke orang tuanya atau dikeluarkan dari sekolah.

3. Modus klitih

Kasus klitih yang terjadi selama ini kebanyakan dilatarbelakangi karena dendam antarindividu yang kemudian melibatkan banyak kelompok. Sebelum melancarkan aksinya, aktivitas korban sudah dipantau oleh pelaku sejak lama dan tidak disadari korban. Modus lain yang membuat klitih ini terjadi ialah untuk menunjukkan suatu identitas kelompok di tengah adanya persaingan antarkelompok. Bahkan klitih juga bisa terjadi karena masalah sepele, seperti tersinggung perkataan orang lain dan menyebabkan pelaku sakit hati. Modus lainnya, klitih menjadi kedok bagi perampok.

4. Kebanyakan pelaku masih di bawah umur

Fakta lain tentang klitih ini ialah para pelaku yang kebanyakan masih di bawah umur. Mirisnya, bahkan ada yang baru berumur 14 tahun. Umur para pelaku yang tergolong muda ini masih menjadi salah satu aspek penyidikan pihak kepolisian. Pada 2021 lalu, Polda DIY menyebutkan bahwa sebagian besar pelaku klitih adalah pelajar, selebihnya merupakan pengangguran.

5. Jangan dikaitkan dengan sekolah

Mengutip dari Antara, Pelaksana Tugas Disdikpora DIY, Bambang Wisnu Handoyo menyatakan bahwa seharusnya sekolah dibebaskan dari predikat klitih. Dan kalau ada pelaku klitih yang tertangkap, seharusnya tidak ditanya asal sekolah. Ia juga menyatakan bahwa persoalan kekerasan atau kejahatan jalanan di Yogyakarta itu lebih sering dikaitkan dengan faktor keluarga, sekolah, serta pola asuh. Padahal sebetulnya lingkungan kampung juga berperan dalam pengawasan warganya, khususnya kalangan remaja. Ke depannya ia berharap agar penaganan kejahatan jalanan di Yogyakarta yang sering dikaitkan dengan geng belajar itu bisa menjadi tanggung jawab bersama meliputi desa, dukuh, RT/RW, dan bukan hanya sekolah saja.

6. Hoax daerah rawan klitih

Diketahui sebelumnya ada sebuah informasi yang menjelaskan daerah-daerah rawan klitih. Daerah-daerah tersebut di antaranya Jl Kaliurang, Jl Kabupaten, Daerah Maguwoharjo, Daerah XT Square, Selokan Mataram, Sekitaran Ringroad, dan Daerah Condong catur. Namun, dijelaskan pihak Polres Sleman bahwa informasi daerah rawan klitih yang tersebar di media sosial itu tidaklah benar. Kepolisian Sleman tidak pernah mengeluarkan rilis resmi terkait daerah-daerah rawan klitih. (Melansir dari berbagai sumber/Maria Alexandra Fedho/Litbang MPI)

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement