Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Masyarakat Jakarta Dilarang Belanda Sholat Idul Fitri

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 02 Mei 2022 |12:02 WIB
Kisah Masyarakat Jakarta Dilarang Belanda Sholat Idul Fitri
Sholat Idul Fitri (Foto: Dok Sindo)
A
A
A

Panitia akhirnya menemui Pokrol Jenderal (Jaksa Agung) pada 5 Agustus, yang awalnya juga keberatan soal Sholat Idul Fitri di Pegangsaan Timur 56. Namun, negosiasi tersebut menghasilkan perizinan dari Pokrol Jenderal dengan syarat, tidak lebih dihadiri 100 orang.

Saat fajar menyingsing pada 6 Agustus, ternyata tidak hanya 100 orang yang datang. Namun, ribuan masyarakat Jakarta berduyun-duyun ke lokasi Sholat Idul Fitri di pekarangan bekas rumah Bung Karno itu.

Banyaknya jumlah jamaah membuat PID dan aparat Belanda pun seolah tak bisa membendung aliran umat muslim yang membanjiri lokasi. Mereka pun hanya bisa memperketat pengamanan.

Sejumlah tank dan jip Polisi Militer Belanda disiagakan di dekat lokasi Sholat Idul Fitri. Alhasil, Sholat Idul Fitri berjalan kondusif dimulai pada pukul 09.15 -10.00 WIB. Meski menegangkan.

Moh Ali al-Hamidi bertindak sebagai imam dan khatib. Dia menggantikan Moh Natsir yang batal jadi imam dan khatib.

(Arief Setyadi )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement