Share

Hal-hal yang Dibahas Presiden Jokowi saat Makan Siang Bersama Wapres AS Kamala Harris

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 14 Mei 2022 16:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 14 18 2594194 hal-hal-yang-dibahas-presiden-jokowi-saat-makan-siang-bersama-wapres-as-kamala-harris-CbLd8YOcon.jpg Presiden Jokowi working lunch dengan Wapres AS Kamala Harris saat KTT ASEAN-AS, Jumat (13/5/2022)/Instagram/@jokowi

WASHINGTON DC - Baru-baru ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedang menghadiri agenda KTT Khusus AS-ASEAN di Washington DC.

Kegiatan Presiden Jokowi selama mengikuti KTT Khusus AS-ASEAN dipaparkan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, melalui YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (14/5/2022).

Diketahui pada hari terakhir pertemuan KTT Khusus AS-ASEAN, Presiden Jokowi turut menghadiri working lunch atau makan siang bersama dengan para pemimpin ASEAN serta Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris.

"Acara yang dilakukan Bapak Presiden pada hari ini adalah, pertama, menghadiri working lunch para pemimpin ASEAN dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris," jelas Retno.

"Kemudian yang kedua adalah menghadiri diskusi mengenai isu perubahan iklim yang dipimpin juga oleh Wakil Presiden Kamala Harris, dan ketiga acara puncaknya adalah KTT Khusus ASEAN - Amerika Serikat," tambahnya.

Retno kemudian menjelaskan topik yang dibahas Presiden Jokowi bersama Kamala Harris saat working lunch berlangsung.

Di antaranya adalah masalah ketahanan kesehatan, pemulihan dari pandemi, dan kerja sama maritim.

Presiden Jokowi menjadi salah satu pembicara pertama yang diminta untuk menyampaikan pandangannya mengenai kerja sama kesehatan.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Dalam acara tersebut, di awal pernyataan Presiden Jokowi menyampaikan bahwa isu kesehatan adalah salah satu prioritas presidensi Indonesia di G20.

"Presiden menyampaikan bahwa kemarin, bersama Presiden Biden, Presiden Republik Indonesia telah memimpin KTT Covid-19, ini merupakan KTT yang kedua," jelas Retno.

Presiden Jokowi lebih lanjut mengatakan bahwa kerja seluruh negara di dunia untuk menangani Covid-19 belum usai.

Kerja bersama untuk mengantisipasi pandemi yang akan datang masih terus berlangsung.

Menurut Presiden untuk menyelesaikan pekerjaan ini, diperlukan penguatan kemitraan ASEAN - Amerika Serikat.

Di dalam konteks kemitraan ASEAN - Amerika Serikat, Presiden Jokowi menyampaikan beberapa usulan kerja sama kesehatan untuk memperkuat kesiapsiagaan global.

"Yaitu yang pertama, pembangunan sistem deteksi dini yang lebih efektif, termasuk di antaranya adalah pertukaran informasi, dan penguatan kapasitas deteksi," jelas Retno.

Menurutnya CDC Amerika Serikat akan dapat berperan dalam hal ini.

"Yang kedua, pembentukan medical inventory buffer untuk kawasan. Bapak Presiden mengusulkan agar ASEAN Regional Reserve of Medical Supplies dapat dikembangkan, sehingga dapat menjadi inventory buffer kebutuhan kesehatan di kawasan," tambahnya.

Lalu yang ketiga, sambung Retno, adalah pengembalian industri kesehatan kawasan. Pasalnya, peran Amerika Serikat sangat penting dalam dukungan investasi, kerja sama riset, transfer teknologi, dan akses ke bahan baku produksi.

Presiden Jokowi menyampaikan harapannya, agar kemitraan dengan Amerika Serikat dapat mendorong keterlibatan negara ASEAN, dalam rantai pasok kesehatan global.

Kemudian yang keempat adalah pembiayaan kesehatan kawasan. ASEAN Covid-19 Response Fund dapat ditransformasikan untuk membangun kesiapsiagaan terhadap atau menghadapi pandemi berikutnya.

Dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi juga membahas terkait perubahan iklim yang terjadi.

"Presiden mengidentifikasi tiga hal penting yang dapat dijadikan fokus kemitraan ASEAN dan AS di dalam penanganan perubahan iklim pertama pembiayaan iklim," jelas Retno.

"Presiden menyampaikan bahwa negara ASEAN hanya menerima sekira 10% dari total dukungan pembiayaan iklim dari negara maju untuk tahun 2000-2019," tambahnya.

Presiden juga menambahkan komitmen ASEAN untuk meningkatkan proporsi negeri baru terbarukan dari 14% pada 2018 menjadi 23% pada 2025.

Upaya ini memerlukan dukungan pembiayaan yang tidak sedikit, setidaknya investasi sebesar 367 miliar Dollar AS dan transfer teknologi.

Retno menjelaskan bahwa potensi yang dimiliki Indonesia di antaranya adalah surya hingga panas bumi ketika saat ini pemanfaatannya baru 0,3%.

Kendaraan listrik di kawasan lima tahun ke depan diharapkan akan lebih kelihatan hasilnya.

(bul)

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini