Share

FBI Ungkap Rencana ISIS Bunuh Mantan Presiden AS George W. Bush

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 25 Mei 2022 15:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 25 18 2600138 fbi-ungkap-rencana-isis-bunuh-mantan-presiden-as-george-w-bush-mAic5kj3yl.jpg Presiden ke-43 Amerika Serikat George W. Bush. (Foto: Reuters)

WASHINGTON - Seorang warga negara Irak yang tinggal di Amerika Serikat (AS) telah didakwa dalam skema pembunuhan mantan Presiden George W. Bush. Dia dituduh berencana membantu anggota kelompok teroris Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS) memasuki AS dan membunuh presiden ke-43 itu.

BACA JUGA: Salah Sebut Invasi Irak, George Bush: 'Maksud Saya Ukraina'

Satuan tugas terorisme FBI menangkap Shihab Ahmed Shihab Shihab, (52), pada Selasa (24/5/2022) karena "membantu dan bersekongkol untuk membunuh mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush," di antara tuduhan lainnya, menurut Departemen Kehakiman AS, sebagaimana dilansir RT.

Shihab diduga melakukan perjalanan ke Dallas, Texas awal tahun ini untuk mengawasi rumah Bush, dan menerima puluhan ribu dolar pada akhir 2021 untuk membantu menyelundupkan anggota ISIS ke negara itu melalui perbatasan selatan sambil bekerja dengan sumber rahasia FBI.

BACA JUGA: Detik-Detik Saddam Hussein Ditangkap, Tentara AS: Presiden Bush Kirim Salam

Pria itu tiba di AS pada 2020 dengan visa pengunjung yang diperoleh dengan bantuan "kontraktor Irak-Amerika yang korup di Kedutaan AS," klaim FBI. Dia bekerja di sejumlah pekerjaan di sekitar Ohio dan Indiana sejak saat itu.

Shihab muncul di pengadilan federal pada Selasa, dan selain tuduhan membantu upaya pembunuhan terhadap seorang mantan pejabat AS, yang diancam hukuman hingga 20 tahun penjara, ia juga didakwa karena mencoba membawa seseorang secara ilegal ke negara itu, yang dapat didakwa hukuman 10 tahun.

Pemerintahan George W. Bush membuat sejumlah klaim tentang pemerintah pemimpin Irak Saddam Hussein, termasuk memiliki senjata pemusnah massal yang mengancam Eropa dan diam-diam bersekutu dengan Al Qaeda untuk melawan AS. Tuduhan yang tak terbukti itu digunakan untuk membenarkan invasi ke Irak pada 2003 kepada publik Amerika.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini