Share

Negara-Negara Ini Pernah Jadi Target Serangan Teroris, Nomor 3 Mayoritas Muslim

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Kamis 26 Mei 2022 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 25 18 2600279 negara-negara-ini-pernah-jadi-target-serangan-teroris-nomor-3-mayoritas-muslim-uQYbuLRADB.jpg Pasukan keamanan berjaga setelah serangan teroris di Paris, Prancis, November 2015. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Terorisme telah menjadi menciptakan banyak peristiwa kelam sepanjang sejarah manusia. Bukan hal yang baru dan belum bisa dihilangkan hingga saat ini. Terorisme sengaja dilakukan oleh aktor sub-nasional (non-negara) dengan tujuan politik.

Berikut ini negara-negara yang pernah jadi target teroris, sebagaimana dirangkum Tim Litbang MPI:

1. Prancis

Prancis menjadi salah satu negara barat yang sering menjadi target terorisme. Prancis menjadi sasaran empuk para pelaku terorisme karena banyaknya imigran asing. Karena pengawasan terhadap orang berisiko teroris sulit dilakukan, akhirnya ribuan pemuda Prancis berhasil direkrut menjadi anggota ISIS pada kurun waktu 2013 – 2015.

Pada 7 Januari 2015, simpatisan dari kelompok terorisme Al Qaeda menyerang dengan menembak mati 12 orang di kantor redaksi majalah satire Charlie Hebdo di Paris. Di hari selanjutnya, 8 Januari 2015 di pinggir kota Paris, seorang teroris dari kelompok terorisme ISIS membunuh seorang polisi wanita. Keesokannya, pada 9 Januari 2015 pria itu melakukan penyanderaan kepada seorang warga di supermarket Yahudi di luar kota Paris, dan membunuh empat orang lainnya.

BACA JUGA: Kisah Serangan Teror Bersenjata 13 November 2015 di Paris

Serangan teroris terburuk yang pernah terjadi di Prancis terjadi pada 13 November 2015. Serangan tersebut dilakukan oleh kelompok ISIS dengan melakukan bom bunuh diri dan penembakan di gedung konser Bataclan, beberapa bar dan restoran di Paris, dan di stadion Stade de France. Akibat kejadian tersebut, terdapat 130 orang tewas terbunuh.

Tak berhenti sampai di situ, kelompok ISIS kembali melakukan teror pada 14 Juli 2016 tepat saat hari libur nasional. Teror dilakukan oleh seorang pria yang menabrakkan truk ke kerumunan warga di Nice, kota di tepi laut Mediterania, yang mengakibatkan 86 orang tewas. Pelaku tersebut ditembak mati oleh kepolisian setempat.

2. Jerman

Pada 19 Desember 2016, kelompok terorisme ISIS melakukan teror dengan membajak sebuah truk dan menyandera pembeli di pasar Natal di Berlin. Akibatnya, 12 orang tewas. Empat hari kemudian, penyerang tersebut berhasil ditembak mati oleh polisi di Milan.

Berdasarkan data dari kepolisian Jerman, ada lebih dari 1000 orang yang diwaspadai sebagai anggota terorisme di Jerman, pada 2021. Mereka diklasifikasikan sebagai “orang berbahaya” atau orang-orang yang dapat melakukan kejahatan bermotif politik yang cukup signifikan. Ada pula “orang-orang relevan” atau kelompok yang lebih luas daripada kelompok inti. Menurut polisi, kelompok ini dapat memberikan dukungan berupa logistik dan hal lainnya untuk tindakan terorisme.

Jumlah “orang berbahaya” mencapai 554 orang, sedangkan “orang-orang relevan” sebanyak 527 orang. Peneliti dari Yayasan Penelitian Konflik negara bagian Hessen (HSFK) Julian Junk, dikutip dari DW, berpendapat bahwa saat ini faktor lain yang berperan penting dalam isu teror adalah kemajuan teknologi. Menurutnya, drone, algoritma internet, dapat meningkatkan kordinasi dengan cepat secara transnasional. Tetapi, teknologi juga membuka ruang lebih luas untuk melawan terorisme dengan melakukan tindakan pencegahan.

3. Turki

Turki merupakan salah satu negara dengan mayoritas muslim terbesar di perbatasan Eropa. Kelompok ISIS menjadikan Turki sebagai target serangan teror pada enam bulan pertama tahun 2016. Serangan teror terjadi sebanyak 11 kali di berbagai wilayah di Turki. Pada 29 Juni 2016, bom bunuh diri dilakukan di Bandara Attaturk, Istanbul yang menewaskan 41 orang.

Menurut peneliti Pusat Kajian Strategi dan Internasional (CSIS) Amerika Serikat, Bulent Aliriza, faktor yang paling berpengaruh adalah manuver para militan ISIS yang ingin melakukan serangan balik terhadap Turki. Hal ini dikarenakan sepanjang tahun 2015-2016, Turki membantu koalisi Barat pimpinan Amerika Serikat menggempur basis-basis pada militan khilafah di Suriah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini