Mereka ingin memahami kehidupan sehari-hari dalam peradaban masa lalu.
Namun, kedua sisi ekstrem—kekayaan raja yang luar biasa dan keberadaan rakyat jelata yang hidup dengan susah payah—menimbulkan diskusi penting: seperti apa evolusi ketidaksetaraan dalam masyarakat kuno.
Salah satu caranya, meneliti nilai barang-barang yang disimpan di dalam makam. Namun keberadaan benda-benda mewah di dalam makam belum tentu menjadi bukti kesenjangan sosial. Kerap kali strata sosial tak bisa diukur dengan benda mewah semata, tapi juga melalui prestise dan kekuasaan.
Sejumlah arkeolog telah mencoba menerapkan sejumlah prinsip ekonomi untuk meneliti perbedaan sosial di situs kuno tertentu dan membandingkan datanya dengan tempat-tempat berbeda.
Sebuah studi yang dipimpin oleh Samuel Bowles dari Santa Fe Institute dan diterbitkan di jurnal Nature pada 2017 mencoba menjawab pertanyaan ini dengan menerapkan koefisien Gini di sejumlah besar situs arkeologi, baik di Dunia Lama yang mencakup kawasan Asia dan Afrika maupun di Benua Amerika.
Koefisien Gini angka yang paling umum digunakan untuk mengukur ketimpangan pendapatan.
Daftar situs kuno yang diteliti ini, antara lain Çatalhöyük di Turki, Pompeii di Italia, dan Teotihuacan di Meksiko. Di sana, para peneliti mengukur dimensi rumah sebagai indikator perkiraan kekayaan.
Di antara komunitas pemburu-pengumpul modern, tim peneliti menemukan koefisien Gini yang rendah—hanya sekitar 17, dalam skala 0 hingga 100.