Share

Menanam di Bulan, Strategi Ilmuwan Tambal Kebutuhan Pasokan Makanan Bumi

Nanda Aria, Okezone · Selasa 28 Juni 2022 01:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 27 18 2619293 menanam-di-bulan-strategi-ilmuwan-tambal-kebutuhan-pasokan-makanan-bumi-6JYEyU1e27.jpg Ilustrasi/ Foto: Reuters

JAKARTA - Peneliti di University of Florida telah menemukan cara membudidayakan tanaman di tanah Bulan. Ini adalah pertama kalinya para ilmuwan menunjukkan bahwa kehidupan dapat muncul dari regolith, yakni batuan yang ditemukan di permukaan Bulan.

 BACA JUGA:Marshanda Ditemukan setelah 2 Hari Hilang, Sahabat: Dia Baik-baik Saja

Temuan tersebut telah diterbitkan dalam jurnal Communications Biology dan dapat menjadi pedoman dalam memulai "mimpi eksplorasi" bulan di masa depan.

Dilansir dari DW, salah satu penulis riset tersebut, Rob Ferl, mengatakan, riset tersebut dapat membantu para astronot melakukan misi di bulan dengan membudidayakan makanan mereka sendiri, termasuk mengurangi kebutuhan akan pasokan dari Bumi.

"Ketika manusia bergerak sebagai sebuah peradaban, tidak hanya untuk menjelajah selama beberapa hari, tetapi ketika pergi untuk tinggal di suatu tempat, kita selalu membawa pertanian bersama itu," kata Ferl dikutip, Selasa (28/6/2022).

Selain terkait ketahanan pangan dalam level tertentu, penelitian ini memiliki manfaat lain. Misalnya, dapat membantu astronot memurnikan udara, menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer, dan memproduksi air bersih.

Dijelasakan bahwa, para peneliti menanam benih selada batu (Arabidopsis) di tanah bulan yang dibawa pulang ke Bumi oleh astronot sekitar 50 tahun yang lalu. Tanah itu dikumpulkan dalam tiga misi Apollo yang berbeda, yakni Apollo 11 dan 12 pada tahun 1969 dan Apollo 17 pada tahun 1972.

 BACA JUGA: Keseruan Vision+ di Ubud Food Festival 2022, Promosikan Kuliner Indonesia dari Segi Konten

Mereka membagi tanah bulan itu pada wadah 1 gram. Kemudian para ilmuan menambahkan air, cahaya dan nutrisi. Mereka juga menanam benih kelompok kedua pada abu vulkanik, yang komposisinya mirip dengan tanah bulan, sebagai kelompok kontrol.

Setelah kurang dari 48 jam, para ilmuwan melihat pertumbuhan pada kedua kelompok, tetapi mencatat beberapa hari kemudian bahwa tanaman di tanah bulan tampaknya berada di bawah tekanan.

Tanaman pada regolith dari Bulan tampak kerdil dibandingkan dengan yang tumbuh pada abu vulkanik Bumi. Namun Ferl mengatakan, fakta bahwa tanaman itu bisa tumbuh membuat penemuan itu positif.

 BACA JUGA:Gagal Nyalip, Remaja Tewas Kecelakaan di Bogor

"Intinya adalah, sampai benar-benar riset selesai, tidak ada yang tahu apakah tanaman, terutama akar tanaman, akan dapat berinteraksi dengan tanah yang sangat tajam dan sangat antagonis yang merupakan sifat regolith bulan," kata Ferl.

Di sisi lain, penulis lainnya yaitu Anna-Lisa Paul mengatakan, menanam tumbuhan pada regolith cenderung mudah, namun memperoleh bahan yang diperlukan untuk penelitian itu sulit.

Para peneliti, lanjutnya, hanya memiliki sekitar 12 gram tanah bulan atau sekitar satu sendok makan. Sementara penelitian ini harus dilakukan beberapa kali, selama lebih dari satu dekade.

"Sampel-sampel ini adalah harta alami yang sangat berharga," katanya.

 BACA JUGA:Bertambah, Kini Ada 26 Parpol yang Sudah Miliki Akses Sipol

Dia menjelaskan, ketika bereksperimen dengan tanah bulan ini, partikel tanah bulan tersebut berubah. Begitu tanah bulan bersentuhan dengan udara dan air, tanah ini tidak lagi murni dan kehilangan sebagian dari sifat alamiahnya, yang sangat dilindungi sebelumnya.

Adapun, penemuan yang dipublikasikan ini sangat penting untuk misi ke bulan. Hanya saja ilmuwan masih belum tahu bagaiamana tanaman dari Bumi dapat berinteraksi dengan lanskap Bulan. Sebab, Bulan dinilai sangat kering dibandingkan dengan Bumi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini