Ide Awal
Sudah sekitar tiga bulan kelompok istri nelayan di Desa Gual menjalani kerajinan ecoprint secara mandiri. Meski dibilang baru, namun sudah ada ratusan produk yang dihasilkan berupa kaus, goodie bag, topi, dompet, selendang hingga phasmina.
Ketua Koperasi Produsen Kampung Nelayan Maju Desa Suak Gual, Rozali mengatakan, munculnya ide membuat ecoprint ini bermula saat ditetapkannya Desa Gual sebagai Kampung Nelayan Maju (Kalaju) oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Maret 2021 lalu. Dari situ, Desa Gual dilirik menjadi objek wisata baru di Kabupaten Belitung.
Seiring berjalannya waktu, pada April 2022, pihak KKP melihat potensi lain dari Desa Gual. Mereka menilai Desa Gual memiliki sumber daya alam tumbuhan yang beragam, selain potensi sumber daya laut.
Pihak KKP lantas mendorong para warga, khususnya istri nelayan untuk membuat kerajinan ecoprint dengan memberikan pelatihan dan penyuluhan. "Kita (para ibu-ibu di sini) diberikan pelatihan membuat ecoprint ini, terus dari situ kita kembangkan," ucap Rozali.
Membantu Perekonomian Warga
Diakui Ruminah, kegiatan ecoprint ini sangat sangat membantu para istri nelayan. Tak hanya melatih kreativitas, namun juga membantu perekonomian keluarga sebagai mata pencaharian alternatif (MPA) di saat musim tidak melaut.
“Kalau saat musim tidak melaut, suami kami juga sering ikut membantu membuat kerajinan ecoprint ini. Mereka membantu menggulung dan mengikat kain yang sudah kami tempeli dedaunan agar lebih kencang sehingga corak daunnya akan lebih muncul pada kain tersebut,” imbuhnya.
Ruminah berharap, hasil produksi ecoprint Desa Suak Gual ini dapat dipasarkan tidak hanya di skala lokal, namun juga bisa dipasarkan hingga luar negeri. "Semoga dengan adanya penyuluhan dari KKP bisa di pasarkan ke luar negeri," ungkapnya.