Share

Kepala BKKBN Sarankan Penderita Stunting Konsumsi Makanan 'Ekstrem' Seperti Warga Gunungkidul

Erfan Erlin, iNews · Senin 27 Juni 2022 16:59 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 27 510 2619125 kepala-bkkbn-sarankan-penderita-stunting-konsumsi-makanan-ekstrem-seperti-warga-gunungkidul-MNVuwR2Rqn.jpg Ilustrasi/ Foto: Erfan Erlin

GUNUNGKIDUL - Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo meminta masyarakat untuk mengkonsumsi makanan-makanan 'ekstrem' yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat warga Gunungkidul untuk mengurangi resiko stunting. Karena makanan-makanan ekstrem tersebut justru mengandung protein yang cukup tinggi.

 BACA JUGA:Cegah Penularan PMK, Sapi Kurban Presiden Jokowi Dikarantina

Mantan Bupati Kulonprogo ini mengungkapkan masyarakat tidak perlu mengada-ada membeli daging sapi atau daging ayam untuk meningkatkan protein mereka. Karena sejatinya makanan sederhana yang selama ini dikonsumsi masyarakat Gunungkidul sangat tinggi proteinnya.

"Seperti laron, belalang, ungkrung (larva pohon) jati atau ikan itu murah dan mudah didapatkan. Sehingga tidak perlu 'Ngoyo' membeli daging sapi yang harganya mahal," terangnya, Senin (27/6/2022).

Hasto menambahkan, pihaknya memang kini ditunjuk sebagai Koordinator Percepatan Pengurangan Angka Stunting secara nasional. Oleh karenanya ia kini akan berusaha mengintegrasikan data dan program pengentasan kemiskinan di tanah air untuk mengurangi angka stunting di tanah air.

Seperti Kementrian PUPR yang memiliki program bantuan rumah untuk keluarga miskin. Pihaknya akan berupaya untuk mengintegrasikan program tersebut dengan merekomendasikan skala prioritas bagi keluarga yang memiliki resiko stunting lebih tinggi.

"Jadi kami meminta yang memiliki resiko stunting untuk didahulukan," terangnya.

 BACA JUGA:Usai Diguyur Hujan, Jalan Penghubung Desa di Bandung Barat Longsor

Hari ini pihaknya juga meluncurkan program Orang Tua Asuh Stunting (Orang Penting) tujuannya untuk mengurangi angka stunting itu sendiri melalui orang-orang terdekat atau orang di sekitarnya. Warga yang tinggal di sekitar penyandang stunting atau resiko stunting bisa menjadi orangtua asuh.

Nantinya, orangtua asuh tersebut akan memberikan bantuan berupa makanan bergizi secara langung kepada penderita stunting. Sehingga penderita stunting akan terjamin permakanannnya dan akan segera terbebas dari resiko stunting tersebut.

"Jadi bantuannya bisa berwujud makanan langsung," terangnya.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Hasto mengaku telah menghitung berapa kebutuhan permakanan untuk penderita stunting dalam satu hari. Dia mengkalkulasi setiap penderita stunting membutuhkan dana sebesar Rp 15 ribu perhari untuk mencukupi kebutuhan proteinnya.

 BACA JUGA:KSAD Sebut TNI AD Perlu Revisi Doktrin Kartika Eka Paksi, Ini Alasannya

Jika orangtua asuh stunting tersebut bersedia menjadi penyedia makanan selama 6 bulan, maka ia yakin penderita stunting tersebut akan sembuh. Sehingga angka pengurangan stunting dapat dilakukan secara signifkan dengan melibatkan berbagai pihak.

"Jadi kita terbuka melibatkan pihak swasta untuk membantu mengurangi angka resiko stunting," ujarnya.

Koordinator Orang Penting DIY, Yuni Astuti, mengungkapkan pihaknya sengaja memilih Gunungkidul menjadi lokasi peluncuran program orangtua asuh stunting karena di Gunungkidul ini menduduki rangking tertinggi penderita stunting di DIY. Dan dia juga memilih Ngalangombo karena selain terpencil juga memiliki angka kemiskinan tertinggi di Gunungkidul.

 BACA JUGA:Puncak Haji 2022, Ini Skema Transportasi dan Penjemputan Jamaah dari Makkah ke Armuzna

"Gunungkidul memiliki angka tertinggi stunting di DIY yaitu 20,6 persen. maka kita lakukan di sini," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini